Jumat, 20 Februari 2009

APA SIH PROSPEK PBA ???

Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Kuantitas yang begitu banyak selayaknya mengerti bahasa Arab sebagai bahasa ibadah umat tersebut. Sehingga suatu saat nanti orang Islam tidak perlu lagi mengeja bacaan Arab denga menggunakan teks berbahasa Indonesia. Karena jika dikaji sedikit mendalam, bahwasanya ketika kebanyakan orang yang mengeja bacaan Arab dengan menggunakan teks berbahasa Indonesia sering merubah makna yang dimaksud dalam teks aslinya (berbahasa Arab), oleh karenanya jangan heran kalau apa yang diinginkan oleh pembaca ternyata berubah makna dan tujuan.

Hampir semua perguruan tinggi Islam di Indonesia menyelenggarakan Pembelajaran Bahasa Arab (PBA) yang bertujuan untuk mencetak sarjana-sarjana yang siap untuk mengajar bahasa Arab mulai dari MI, MTs, dan MA. Namun pada kenyataannya hampir di seluruh program studi PBA di banyak perguruan tinggi Islam di Indonesia merupakan mahasiswa yang minoritas, siswa-siswa lulusan MA ataupun lulusan SMU enggan untuk berurusan dengan mata kuliah-mata kuliah yang berbau Arab. Alasan klasik yang sering dilontarkan adalah rasa takut mereka terhadap materi-materi bahasa Arab, bahasa Arab menurut mereka merupakan pelajaran yang menakutkan.
Bagi sebagian siswa yang tidak akrab dengan bahasa Arab mungkin alasan tersebut masih dapat diterima, tetapi bagaimana dengan mereka yang lulus dari MA atau dari pondok pesantren? Jika saja 30 % saja siswa-siswa lulusan MA dan pesantren setiap tahunnya ketika mereka masuk ke perguruan tinggi Islam mereka mengambil program studi PBA, pasti program studi tersebut tidak akan kesepian mahasiswa.
Dalam realita paradigma ditengah masyarakat mengenai prospek alumni PBA, mayoritas menganggap prospek PBA suram di kehidupan lulusannya di masa yang akan datang. Padahal kemayoritasan umat Islam di Indonesia sangat mengharapkan sentuhan-sentuhan tangan mereka dalam pembelajaran bahasa Arab. Atau kita tidak perlu berbicara dalam skup nasional, di Lampung saja terdapat 706 MI, 538 MTs, dan 215 MA (sumber KANWIL DEPAG LAMPUNG); yang di masing-masing sekolah tersebut membutuhkan tenaga-tenaga pengajar bahasa Arab yang propesional yang mampu mengubah opini siswa yang mengatakan pelajaran bahasa sebagai bahasa momok bagi mereka.
Sudah saatnya orang mengajar bahasa Arab adalah orang yang mengerti bagaimana mengajar bahasa asing, bukan hanya karena seseorang mampu berbahasa Arab terus begitu saja dapat mengajar bahasa Arab, jangan heran jika kemudian hasilnya menjadikan bahasa agama Islam itu sebagai momok bagi siswa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar