blUe is confidence

Loading...

Kamis, 19 Februari 2009

"TUHAN" DALAM PERSPEKTIF AL QUR'AN”

(MENGURAIKAN AYAT-AYAT TENTANG TUHAN ;
Pendekatan Fenomenologis Dalam Kajian Islam)
Oleh:
J. Sutarjo


I. PENDAHULUAN
Pemahaman terhadap ayat-ayat yang menerangkan tentang Tuhan dalam mengkaji Islam merupakan suatu hal yang amat penting. Dikatakan penting karena agama Islam adalah agama samawi di mana agama tersebut memiliki sumber tunggal yaitu Allah swt. Dalam kajian fenomenologi agama Islam, Allah adalah obyek dari agama tersebut. Sebagai obyek yang memiliki sisfat-sifat maha yang terurai dalam Asma’ul Husna. Sifat-sifat mahaNya tiada tertandingi oleh apapun dan siapapun.
Jika dalam berbagai kajian mengenai ke-Tuhanan memiliki konsep-konsep yang berbeda satu sama lain; misalnya faham Monoteisme dengan kepercayaan satu Tuhan yang juga dianut oleh masyarakat pratulisan-Afrika yang meyakini bahwa Tuhan adalah yang maha tinggi, Dualisme yang difahami dalam hinduisme bahwa Tuhan yang maha tinggi dianggap memiliki kodrat ganda; yang satu tidak bergerak dan yang lain aktif , Politeisme yang memiliki kepercayaan kepada berbagai dewa personal, Panteisme yang mengidentikkan Tuhan dengan segala sesuatu dan Monisme yang meyakini bahwa ilahi dapat menjadi daya universal di mana kekuatan tersebut tampak dalam dunia psikologis sebagai jiwa yang universal.
Beberapa konsep di atas merupakan pengantar sebuah pemahaman mengenai Tuhan atau hakekat Tuhan dalam persepsi bebrbagai agama yang ada di dunia. Di sini tentu tidak akan membicarakan secara luas dan mendetil mengenai faham-faham tersebut melainkan hanya akan mengambil satu faham saja yang relevan dengan persepsi agama Islam yang konsep-konsepnya terdapat dalam Al Qur’an, Al Hadits dan sejarah para Nabi utusan Allah.
Dari berbagai konsep yang akan diketengahkan berikut bahasanya diharapakan dapat memberikan gambaran ril mengenai Existensi dan Singgasana Allah serta pentingnya mengerti hakekat Allah dalam beragama, yaitu menganut agama Islam khususnya.


II. EKSISTENSI ALLAH (ZAT DAN KEKUASAANYA)

Berbicara tentang Allah dengan sumber yang didapat dari Al Qur’an yang berupa konsep-konsep mati, akan mengarah pada sebuah persepsi bahwa konsep-konsep tersebut merupakan sebuah doktrin agama yang tidak terbantahkan dan tidak bisa ditawar yang mengeksplorasi berbagai sudut pandang tentang Tuhannya. Mengenai kekuasaanNya misalnya, bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu termasuk langit dan bumi beserta sesisinya, yang semisal itu harus dipercayai oleh pemeluknya. Kendatipun sebagai mahluk yang diberi akal, manusia cenderung berusaha ingin melogikakan doktrin tersebut karena rasa penasaran atau rasa keingin tahuannya.
Dalam menghadapi situasi seperti ini metode pendekatan secara keilmuan sangatlah berperan, walaupun pendekatan keilmuan itu sendiri tidak secara langsung memberikan penjelasan final mengenai hakekat Allah, namun cara berfikir yang mengarah pada obyek agama Islam, dalam hal ini yang dimaksud adalah Allah, dapat menjadi sebuah perspektif logis yang menuntun pada sebuah kesimpulan yang tidak terbantahkan.
M. Quraisy Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” memberikan sebuah penjelasan metodik mengenai langkah pencetusan sebuah persepsi mengenai hakekat sesuatu dengan mencari fenomena atau hakekat itu kepada pembahasan tentang fenomena yang menyangkut masalah-masalah tersebut, seperti potensi, keistimewaan, ciri-ciri khas, fungsi dan kegunaan masalah yang dihadapi, dan mungkin pembahasan menyangkut fenomena-fenomena tersebut dapat menghantarkan kita kepada kunci yang dapat membuka tabir suatu hakekat.
Metode berfikir yang ditawarkan oleh M. Quraisy Shihab di atas didukung oleh sebuah pengertian mengenai fenomenologi yaitu; Ilmu tentang gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Selain dari itu sudah sangat dimaklumi juga bahwa dalam metode ilmiah dikenal adanya Deskripsi institutif, yaitu sebuah penjelasan yang dapat diramalkan melalui institusi-institusi dari obyek yang akan diramalkan. Penjelasan inipun mempunyai kedudukan yang strategis dalam operasional metode ilmu.
Lebih lanjut lagi seorang penulis buku mengenai “Tasawuf Kontextual”, Prof. Dr. H.M. Amin Syukur,MA memberikan sebuah gagasan mengenai pandangan tentang Tuhan. Ia mengatakan ; Bahwa pandangan mengenai Tuhan sesungguhnya hanyalah konstruksi manusia. Bukan realitas Tuhan yang sesungguhnya, hal itu yang menyebabkan mengapa konsep tentang Tuhan menjadi bermacam ragam.7Persepsi ini mungkin saja dapat terjadi, sesuai dengan pendekatan fenomenologi yang dipakai oleh setiap orang. Akan tetapi dalam hal ini sumber Al-Qur’an adalah sumber yang paling valid yang menjabarkan berbagai fenomena yang menjelaskan keberadaan nomena, yaitu Allah Swt.
Dari uraian-uraian di atas cukuplah dapat dimaklumi bahawa untuk menguraikan eksistensi Allah secara keilmuan maka yang paling tepat adalah menggunakan pendekatan mengenai fenomena-fenomena Allah yang dapat dirasakan oleh kesadaran atupun panca indera manusia dengan landasan Al-Qur’an.
Sebuah alasan yang tak kalah pentingnya yang mendukung metode pendekatan pemahaman terhadap existensi Allah yaitu bahwa tigkat kemajuan dan kemodernan berfikir umat manusia saat ini jelas jauh berbeda dengan umat-umat sebelum kerasulan nabi Muhammad Saw. Maksudnya adalah tersinyalirnya daya fikir yang berbeda disetiap kaum dari masa kemasa ternyata dapat dibuktikan dengan metode-metode pendekatan yang dipakai dalam doktrinisasi atas wujud dan ketauhidan serta keesaan Allah pada masa-masa tersebut.
Dari lintasan sejarah para rasul yang tertera dalam Al-Qur’an merupakan data otentik yang harus diyakini dan bukan hanya sekedar itu, data-data tersebut tentu juga dapat dijadikan sebagai sebuah wacana presentatif yang dapat selalu menjadi argumentasi representatif dengan menggulirkan persepsi-persepsi yang dituangkan melalui sebuah analisis sejarah yang terfokus pada semantik linguistik yang tidak lepas dari analisis sosio-linguistik dan psiko-linguistik pada setiap fase-fasenya.

a.Regulerisasi Diksi Bahasa Pada Ayat-Ayat Tauhidiyah Yang Diturunkan
Kepada Para Rasul
Di dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an”, M. Quraisy Shihab memaparkan ayat-ayat tauhidiyah yang tergambar dalam lintasan sejarah para Nabi dan Rasul yang bersumber dari Al-Qur’an yang di dalamnya dapat ditemukan bahwa para Nabi dan Rasul Selalu membawa ajaran tauhid.
وََمَآاَرْسَلْنَامِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلَّانُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآاِلَهَ إِلَّااَنَافَاعْبُدُوْنِ ه
Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebalum kamu, kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selauin Aku, maka sembahlah Aku (QS Al-Ambiyaa’ (21);25).

1. Ucapan nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu’aib
Ucapan nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu’aib diabadikan dalam Al-Qur’an masing-masing secara berurut dalam surat Al-A’raaf (7): 59,65,73 dan 85.

يَاقَوْمِ اعْبُدُوااللهَ مَالَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ ه
Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.

2. Ajaran yang diterima Nabi Musa a.s.
Demikian juga ajaran yang diterima Nabi Musa a.s. langsung dari Allah:
وَاَنَااخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَايُوْحَى ه إِنَّنِى اَنَااللهَ لآإِلَهَ اِلَّااَنَافَاعْبُدُوْنِىوَاَقِمِ الصَّلَوةِ ِلذِكْرِى ه
Aku yang memilihmu, maka dengarkan dengan tekun apa yang akan diwahyukan (kpadamu):”Sesungguhnya Aku adalh Allah,tidak ada Tuhan selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat ntuk mangingat-ku”. (QS Thaha (20): 13-14).

Nabi Isa juga mengajarkan prinsip di bawah ini kepada Tuhannya:
وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَابَنِي إِسْرَاِيْلَ اعْبُدُوْااللهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ. إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْحَرَمَ اللهُ الْجَنَّةَ وَمَأْوَهُ النَّارُ. وَمَالِلظَّالِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ه.
Isa berkata (kepada Bani Israil), “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang aniaya. (QS Al-Maidah (5):72)

Walaupun semua nabi membawa ajaran tauhid, terlihat melalui ayat-ayat Al-Qur’an bahwa ada perbedaan dalam pemaparan mereka tentang prinsip tauhid. Jelas sekali bahwa Nabi Muhammad Saw., melalui Al-Qur’an diperkaya oleh Allah dengan aneka penjelasan dan bukti, serta jawaban yang mebungkam siapapun yang mempersekutukan Tuhan.
Allah Swt. Menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berfikir umat mereka.Karena itu tidak ada bukti-bukti logis yang di kemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada akhirnya setelah mereka membangkang, jatuhlah sanksi yang memusnahkan mereka:
........فَأَخَذَهُمُ الطُّوْفَانَ وَهُمْ ظَالِمُوْنَ ه
Maka topan membinasakan mereka, dan mereka adalah orang-orang aniaya. (QS Al-‘Ankabut (29): 14).

3. Ajaran yang diterima Nabi Hud
Pada masa Nabi Hud a.s. yang masanya belum terlalu jauh dengan masa Nabi Nuh, pemaparan yang disampaikan oleh keduanya mengenai ketauhidan Allah hampir tidak berbeda, akan tetapi masyarakatnya yang diajak dialog pada saat itu memiliki kemampuan berfikir sedikit di atas umat Nabi Nuh. Oleh karena itu pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan oleh Nabi Hud a.s. disertai dengan peringatan tentang nikmat-nikmat Allah yang mereka dapatkan. Dalam ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan keesaan Allah, Hud a.s. mengingatkan:
......وَاذْكُرُوْاإِذْجَعَلَكُمْ خُلَفاَءَمِنْ بَعْدِقَوْمِ نُوْحٍ وَزَادَكُمْ فِىالْخَلْقِ بَصْطَةً* فَاذْكُرُوْاأَلآاءَاللهِ لَعَلَكُمْ تُفْلِحُوْنَ ه

Ingatlah (nikmat Allah) oleh kamu sekalian ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh), maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberutungan. (QS Al-A’raaf (7): 69 dan jga dalam QS Al-Syu’ara’ (26): 123-140).

4. Ajaran yang diterima Nabi Shaleh
Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi Hud a.s. lebih luas dan rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas pula. Misalnya mereka diingatkan tentang asal kejadian mereka dari tanah, dan tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud (11): 61).
Akal yang mampu mencerna dapat memahami bahwa asal kejadian manusia berasala dari tanah, dalam arti bahwa sperma yang dituangkan ke rahim istri berasal dari makanan yang dihasilkan oleh bumi. Manusia yang memiliki akal dapat mencerna ini atau walau hanya memahaminya secara umum, pastilah lebih mampu dari mereka yang sekedar dipaparkan kepadanya nikmat-nikmat ilahi, sebagaimana kaum Hud dan Nuh. Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi Shaleh:
وَاِلَىثَمُوْدَاَخَاهُمْ صَالِحًاقَالَ يَقَوْمِ اعْبُدُوْااللهَ مَالَكُمْ مِنْ اِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْجَاءَتْكُمْ بَيِّنَةً مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةَاللهِ لَكُمْ.......
Dan kepada Tsamud (Kami mengutus) saudara mereka Shaleh. Dia berkata, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang sangat nyata kepadamu; Unta betina Allah ini sebagai bukti untuk kamu….” (QS Al-A’raf (7): 73)

5. Ajaran yang diterima Nabi Syu’aib
Pada masa Nabi Syu’aib, ajakan dakwahnya lebih luas lagi, melampaui batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya. Kali ini ajaran tauhid tidak hanya dikaitkan dengan bukti-bukti, tetapi juga dirangkaikan dengan hukum-hukum syariat.
وَاِلَىمَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَقَوْمِ اعْبُدُوااللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْجَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ ِمنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوْااْلكَيْلَ وَاْلمِيْزَانَ وَلَاتَبْخَسُوْاالنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَاتُفْسِدُوْافِىاْلأَرْضِ َبعْدَاِصْلَاحِهَا ذَالِكُمْ خَيْرٌلَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ ه
Dan kepada penduduk Madyan (kami mengutus) saudara mereka Syu’aib. Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu mebuat kerusakan di bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS Al-A’raf (7) : 85).

Ayat ini bahkan menggugah jiwa dan menuntut mereka untuk membangun satu masyarakat yang penuh dengan kemakmuran dan keadilan.

6. Ajaran yang diterima Nabi Ibrahim
Ibrahim menemukan dan membina keyakinannya melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman keruhanian yang dilaluinya dan hal ini di dalam Al-Qur’an dibuktikan bukan saja dalam penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 75, tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan bahkan beliau beliau satu-satunya Nabi yang disebut Al-Qur’an bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan beliau dikabulkan Allah (QS Al-Baqarah (2): 260)
Abbas Al- ‘Aqqad dalam bukunya “ Abu Al-Ambiya” menuliskan bahwa ; Penemuan yang dikaitkan dengan N abi Ibrahim a.s. merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuan atau sejarawan. Ia tidak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom; betapa besarnyapun penemuan-penemuan tersebut, dikuasai oleh manusia. Penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia. Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk kepada akam menjadi menguasai alam, serta menilai baik buruknya. Penemuan manusia dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tetapi kesewenang-wenangannya tidak mungkin dilakukannya, selama penemuan Ibrahim a.s. tetap menghiasi jiwanya.
Karena itu ketika memaparkan tauhid kepada umatnya, Nabi mulia ini tidak lagi berkata sebagaimana Nabi-nabi sebelumnya berkata:
.....اعْبُدُوْااللهَ وَاَّتقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌلَََََّكُمْ إِنْكُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ه.
Sembahlah Allah dan bertawakallah kepadaNya, yang demikian itu lebih baik untukmu kalau kau mengetahui (QS Al-‘Ankabut (29): 16)

Dan dinyatakannya bahawa Tuhan yang disembah adalah Tuhan seru sekalian alam, bukan Tuhan suku, bangsa dan jenis makhluk tertentu saja.
إِنِِّي وَجَهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَالسَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَنِيْفًاوَّمَااَنَامِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ه.
Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (QS Al-An’am (6): 79)
قَالَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَاَنَاعَلَىذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ ه.
Dia (Ibrahim) berkata (kepada kaumnya), “Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan seluruh langit dan bumi yaaang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu” (QS Al-Anbiya’ (21): 56)

Terdapat juga dalam Al-Qur’an bagaimana beliau “berdiskusi” dengan umatnya dalam rangka membuktikan kesesatan mereka, dan menunjukkan kebenaran akidah tauhid (antara lain surat Al-Anbiya’ (21) 51-67)
Demikianlah tahap baru dalam uraian tauhid, oleh karena itu Abdul Karim Al Khatib dalam bukunya “ Qadhiyat Al-Uluhiyah baina Al Falsafah wa Ad-din” menuliskan bahwa sejak Nabi Ibrahim, sampai dengan Nabi-nabi sesudahnya tidak dikenal lagi pemusnahan totalbagi umat satu Nabi sebagaimana yang terjadi terhadap umat-umat sebelumnya.
7. Ajaran Yang diterima Nabi Muhammad Saw.
Pemaparan tauhid pun dari hari ke hari semakin mantap dan jelas hingga mencapai puncaknya dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw. Uraian Al-Qur’an tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad Saw. dimulai dengan pengenalan tentang perbuatan dan sifatNya. Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun.

إِقْرَأْبِسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْوَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ ه.
Bacalah demi Tuhanmu yang meenciptakan (segala sesuatu). Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah dan Tuhanmulah yang (bersifat) maha pemurah, yang mengajar manusia dengan qalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahui-(nya) (QS Al-‘Alaq) (96): 1-5)

Dalam rangkaian wahyu-wahyu pertama Al-Qur’an menunjuk kepada Tuhan yang maha esa dengan kata Rabbuka (tuhan) Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata “Allah”.
Hal ini untuk menggaris bawahi Wujud Tuhan yang Maha Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatanNya.
Ada pula sebuah ungkapan yang oleh sementara pakar dinilai sebagai hadits Qudsi yang berbunyi:
كنت كنزاً مخفياً فاردت ان أعرف فخلقت الخلق ليعرفوني ه
Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, aku berkehendak untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.

Di sisi lain, tidak digunakan kata “Allah” pada wahyu-wahyu pertama itu,adalah dalam rangka meluruskan keyakinan kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata “Allah” untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan mereka tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam.
Mereka misalnya beranmggapan bahwa ada hubungan antara “Allah” dan jin (QS Al- Shaffat (37): 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita (QS Al-Isra’ (17): 40), serta manusia tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan Allah, karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para malaikat dan berhala-berhala perlu disembah sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah (QS Al-Zumar (39): 3).
Dari kekeliruan-kekeliruan itu, maka Al Qur’an melakukan pelurusan-pelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai gaya bahasa, cara dan bukti. Juga sesekali dengan pernyataan tegas yang didahului dengan sumpah, misalnya:
وَالصَّفَتِ صَفًّا. فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا. فَالتَّلِيَتِ ذِكْرًا. إِنَّ إِلَهُكُمْ لَوَاحِدٌ. رَبُّ السَّموتِ وَمَابَيْنَهُمَاوَرَبَّ اْلمَشَارِقِ ه.
Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang (perbuatan durhaka) dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang mebacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar esa, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara ke duanya, dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari (QS Al-Shaffat (37): 1-5)

Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman, seperti:
أَ أَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَارُ ه.
Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang banyak bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa? (QS Yusuf (12): 39).

Demikianlah doktrinisasi mengenai ketauhidan Allah yang didakwahkan pada masa Nabi Muhammad Saw. yang jelas terlihat perbedaan penyamapain gaya bahasa maupun ketegasan pada masa ini dibandingkan denganb masa-masa sebelumnya.
Kendatipun menggunakan gaya bahasa dan tingkat ketegasan yang berbeda, dari seluruh seruan para Nabi intinya adalah mengajak keumnya untuk meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah sang pencipta segala makhluk, satu-satunya yang patut disembah dan dimintai pertolongan.

b. Singgasana Allah
Berbicara mengenai singgasana tentu akan terbayangkan seorang raja yang mendudukinya. Jika dalam kehidupan sehari-hari didapati singgasana seorang raja, tentu tempat tersebut tidak boleh ditempati oleh siapapun kecuali sang raja yang memiliki singgasana tersebut. Raja yang dipuja, disanjung dan sangat dihormati oleh rakyatnya. Suatu saat kerajaannya diserang oleh kawanan pemberontak atau kerajaan lain dan ia tidak mampu mempertahankannya, maka singgasananya pun akan diduki oleh yang laiannya.
Allah adalah zat maha penguasa, tentu singgasananya sangat tidak patut jika dibandingkan dengan singgasana raja-raja manapun. Jika didapati kemegahan singgasana di dunia ini masih mungkin untuk dilukiskan kemegahannya, tetapi kemegaha singgasana Allah takkan tergambarkan kemegahannya. Sebagaimana para ulama salaf yang hidup pada masa sebelum abad ke-3, yang terdiri dari para sahabat dan tabi'in mengartikan bersemayamnya Allah tentu sesuai dengan zat Allah itu sendiri, zat yang maha rahman, maha mulia dan maha tinggi dengan cara yang tidak dapat diketahui.
Dalam hal ini Allah memiliki Singgasana di mana Ia bersemayam, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an:
الله الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَي عَلَى الْعَرْشِ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمَّى يُدَبِّرَ اْلَأمْرَ يُفَصِّلُ اْلَأيَاتِ لَعَلَكُمْ بِلِقَآءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ ه.

Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu myakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (Ar Ra’d: 2)

Dan dalam surat Al A'raf ayat 54 Allah berfirman:
إِن رَبَكُمُ الله ُالَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ فِى سِتَّةِ أَيَامٍ ثُمَّ اسْتَوَي عَلَى اْلعَرْشِ ه
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy..........

Sebagaimana tertera dalam ensiklopedi Islam karangan Cyril Glasse, kata “’Arsy” memiliki sinonim yaitu "Al –Kursi", yang dalam istilah microcosm manusia, istilah ini sepadan dengan "hati".
Sementara itu kata "kursi", yang salah satunya disebutkan dalam Al Qur'an surat Ali Imron ayat 255 diartikan oleh sebagian mufasirin sebagai Ilmu Allah dan yang lainnya mengartikannya sebagai kekuasaan-Nya.10
Maha suci Allah yang telah menciptakan hati di setiap manusia yang manusia itu sendiri tak pernah mengukur kedalaman hatinya sendiri, apa lagi hati orang lain. Dan apa lagi akan mengukur ilmu dan kekuasaan Allah. Manusia diberi kemampuan ilmu pengetahuan hanyalah sedikit.

III. KESIMPULAN
Eksistensi dan persemayaman Allah dapat difahami melalui penelusuran data doktrinitif yang sebenarnya bagi siapapun yang membacanya akan spontan saja meyakininya sebagai sebuah kebenaran apabila ia menyadari ketidak berdayaannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan berbagai kelemahan dan kekurangan.
Dari data-data Qur‘ani tersebutlah tergambar fenomena-fenomena yang menyangkut masalah eksistensi dan persemayaman Allah,sebagai berikut:

1. Bahwasanya Allah adalah Zat yang tiada Tuhan selain Dia, Pencipta langiat dan bumi beserta isinya.
2. Bahwasanya persemayaman Allah adalah singgasana yang disebut sebagai “’Arsy", yang tidak mungkin tergambar dalam perspektif manusia.

Berkaitan dengan kajian fenomenologi dalam memahami Tuhan maka selazimnya sumber perspektif yang tepat adalah kalam Tuhan itu sendiri. Tidak mungkin memandang eksistensi Tuhan hanya dari kaca mata manusia saja.

DAFTAR PUSTAKA


Al Qur'an Al-Karim Dan Terjemahnya, PT Karya Toha Putra, Semarang, 1996
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam (Ringkas), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999
E.G. Parrinder, Historia Religionum, Cet.II, Leiden,1971
Humaidi Tata Panggarsa, Kuliah Akidah Lengkap, Bina Ilmu, Surabaya, 1979
E.G. Parrinder, Historia Religionum, Cet.II, Leiden,1971
Jujun S. Suria Sumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia Utama, Jakarta,2002
Mariasugai Davamori, Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta, 1995
M.Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an”, Mizan, Bandung, 1998,
M. Quraisy Shihab, Membumikan Al Qur'an,Mizan, Bandung, 1999,
Mariasugai Davamori, Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta, 1995
M. Quraisy Shihab, Membumikan Al Qur'an,Mizan, Bandung, 1999,
Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA, Tasawuf Kontekstual, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,2003
W. Montgomery Watt, Islamic Surveys, Edinburgh University Press, Chicago, 1970,

RIWAYAT HIDUP PENULIS


Penulis lahir pada tanggal 07 Juni 1976 di Desa Sinar Rezeki, Tanjung Bintang, Kabupaten Kalianda Lampung Selatan. Pendidikan S1 Porgram Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro - Lampung, dan Pendidikan S2 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Malang - Jawa Timur. Sekarang sebagai Tenaga Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro, dengan mata kuliah spesialis Muthala’ah dan bertugas sebagai staf Unit Pembinaan Bahasa STAIN Jurai Siwo Metro.
Tulisan-tulisan yang pernah diterbitkan di antaranya; Tarbiyatu Al-Islam hia At-Tarbiyah Al-Kamilah (diterbitkan dalam Majalah berbahasa Arab An-Nabighoh STAIN Jurai Siwo Metro), Tathowur Al-Lughah Al-Arabiyah (diterbitkan dalam Majalah berbahasa Arab An-Nabighoh STAIN Jurai Siwo Metro), Islamisasi Sain (diterbitkan dalam Majalah Tarbawiyah STAIN Jurai Siwo Metro)

1 komentar:

  1. wow... bapak menuraikannya dengan cukup lengkap^^
    mia mau nambahin daftar pustakanya nih mengenai mengenal Allah ini. ada sebuah referensi buku yang menurut mia bagus juga mengenai Tuhan dari sudut pandnag islam
    judulnya. "Mengenal Tuhan" karangan H.Bey.Arifin terbitan pt. bina ilmu.

    semoga bermanfaat

    menurut mia, buku itu cukup bagus untuk dijadikan salah satu referensi bacaan kita mengenai Tuhan ^^

    BalasHapus