Kamis, 05 Maret 2009

ISLAMISASI SAINS

(POTENSI TEKNOLOGI MEDIA ELEKTRONIK DALAM PEMBENTUKAN AKAR BUDAYA ISLAMI)

Oleh:
J. Sutarjo

I. PENDAHULUAN

"Kelahiran tradisi dan budaya ilmu merupakan salah satu prasarat penting kearah pembinaan pribadi yang unggul, pembangunan bangsa yang kuat serta pembinaan peradaban yang tinggi"
(Anwar Ibrahim, 1998)


Ungkapan di atas bukan sekedar ungkapan biasa, melainkan sebuah ungkapan yang memilki makna yang amat mendalam dan mendasar jika dihayati dengan penjabaran dari beberapa segi. Ungkapan di atas adalah sebuah ungkapan kausatif, di mana pada prasa-prasa yang berada di awal ungkapan merupakan prasa-prasa kausa. Dan prasa-prasa pada bagian berikutnya adalah akibat dari prasa-prasa pada bagaian awal.
Dari ungkapan itu pula dapat ditangkap sebuah wacana yang sangat luas kandunghannya, di mana terdapat di dalamnya dua permis besar yang menuntut konsep maupun aplikasi yang tidak mudah begitu saja diwujudkan tanpa melalui proses yang panjang. Sebgaimana adanya bahwa dalam membahas tradisi dan ilmu dalam konsep maupun aplikasi tentu memerlukan tinjauan yang sangat luas, karena berkaitan dengan kajian sosial dan budaya.
Walaupun tulisan ini tidak akan mengupas secara mendetil mengenai pesan-pesan yang ada pada ungkapan di atas. Tetapi tidak dipungkiri bahwa ungkapan itu cukup mengilhami titik awal tulisan ini dimulai.
Bertolak dari ungkapan itu pula ada sebuah wacana besar yang dapat mendukung kejayaan suatu bangsa, yaitu tradisi dan budaya. Banyak sekali hal yang menyangkut pembenahan dan bahkan perusak dari budaya maupun tradisi pada suatu bangsa.
Faktor agama merupakan wujud dari bangunan kebudayaan dan tradisi yang sangat diakui kebaikan maupun pengaruhnya dalam kehipan dunia manusia, bagaimana dengan sains?
Sains pada saat ini memiliki potensi yang sangat strategis dalam pembentukan tradisi maupun budaya dari suatu bangsa. Banyak hal kebaikan yang dipersenbahkan oleh para ilmuan di berbagai bidang keilmuan yang menjadikan suatu bangsa pada khususnya dan manusia pada umunya memilki pola pikir dan gaya hidup modern.
Namun tidak pula dapat dipungkiri bahwa sainspun memilki andil dalam perusakan budaya suatu bangsa atau manusia pada umunya. Dengan kemajuan tekhnologi, globalisasi di berbagai bidang pun tak dapat terelakkan lagi.
Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Asia-timur, memilki budaya dan tradisi ketimuran sebagaimana dimilki oleh negara-negara lain di sekitarnya. Akan tetapi pada saat sekarang ini apapun yang ada di negara-negara barat yang berkebudayaan jauh berbeda dengan indonesia, lambat laun nyaris tak dapat dibedakan lagi. Apakah budaya itu milik bangsa barat atau milik semua bangsa. Di mana Indonesia dan negara di kawasan Asia-timurpun berbudaya yang sama.
Dalam lingkup yang kecil dari kebudayaan namun memilki posisi yang strategis. Sebut saja Pornografi dan Pornoaksi sebagai lintas budaya yang sekarangpun meracuni budaya bangsa timur.
Pornografi dan pornoaksi adalah bahaya laten yang memberikan dampak yang sangat buruk bagi eksistensi kaum muda Indonesia dan bangsa timur pada umunya. Dikatakan sebagai bahaya kaum muda, dan sangat mungkin bukan hanya kaum muda tapi juga kaum tua juga dapat terimbas bahanya tersebut.
Kalau ditinjau secara teliti sesungguhnya ada empat bahaya besar yang ditimbulkan dari adanya pornografi dan pornoaksi. Pertama pornografi dan pornoaksi bertedensi kuat merusak moral.Kedua mampu menghancurkan pikiran. Ketiga melarutkan jiwa atau kepribadian. Dan yang terakhir pornografi dan pornoaksi mendangkalkan orang dari ajararan agamanya.
Untuk mengantisipasi dampak bahaya dari pornografi itu kita harus bisa mengidentifikasi sebab atau pintu bagi masuknya pengaruh pornografi dan pornoaksi. Setidaknya ada beberapa pintu masuk utama. Media disadari atau tidak kehadirannya telah membentuk perilaku, sikap dan pola pikir masyarakat. Sebab isi yang ditampilkan media rata-rata mengandung pesan, paham, ataupun model yang bisa menjadi rujukan bagi siapapun. Terlebih lagi dari kalangan atas hingga bawah, anak-anak hingga orang tua pun dapat dengan mudah mengakses media tersebut. Sebut saja VCD dan majalah mudah dibeli murah dan terjangkau. Tabloid tampilan menggoda syahwat tersebar luas. Begitu juga dengan media elektronik. Hampir semua stasiun TV masih menampilkan tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan budaya dan agama. Apalagi dengan maraknya dialog seputar kehidupan suami istri.
Satu media lagi yang memilki tantangan yang sangat besar pada era globalisasi seperti sekarang ini. INTERNET, merupakan jaringan informasi berkelas dunia. Semua informasi dari belahan dunia dapat diakses melalui media satu ini. Informasi yang bernuansa keilmuan dan bahkan informasi yang bermuatan perusakan moralpun tak pelak sangat mudah diakses dari media tersebut. Ini adalah tantangan zaman, Siapa yang akan memberikan jawaban terhadap tantangan tersebut?
Berbagai macam upaya untuk menangani dan mengantisipasi penyebaran pornografi dan pornoaksi terbentur oleh kendala lemahnya sistem dan kualitas moral aparat yang sangat buruk. Apalagi belum adanya aturan secara tegas mengatur soal pornografi dan pornoaksi.
Oleh karena itu perlu adanya gagasan besar yang dapat manghalau dan jika mungkin membalikkan nialai-nilai yang salama ini ditampilkan diberbagai media, khususnya media elektronik. Mungkin belum sampai untuk menjawab tantangan INTERNET, mungkin saja dapat dimulai dari media siar TV, yang dinilai sebagai media paling digandrungi karena media tersebut merupakan multi-media yang menyajikan hiburan sebagai prioritas utama disamping berita dan periklanan. Dengan posisinya sebagai media penyiaran yang merupakan satu-satunya media terpenting dalam perspektif aktifnya, mengubah pikiran manusia memiliki power yang amat kuat; dapat menjarah ke seluruh belahan dunia, dan merupakan media yang menarik.
Oleh karena itu diperlukan pemikiran-pemikiran berperspektif budaya mulia, yang dalam hal ini agama adalah referensi yang sangat tepat. Demikian juga usaha serius agar pornografi dan pornoaksi dapat dieliminasi.
Islam sebagai sebuah agama yang kaya akan konsep tentu sangatlah berkompeten untuk dijadikan sebuah rujukan doktrinitif dan representatif dengan segala keunggulan falsafah dan keaktualannya.

A. Pengertian Islamisasi
Kata Islamisasi berasal dari kata "Islam", yang di dalam bahasa Arab berasal dari kata"salam" yang berarti "pasrah, damai dan selamat". Sedangkan jika Islam ditinjau sebagai sebuah agama, ia memiki pengertian sebagaimana berikut:
a. Islam merupakan sebuah ajaran agama yang diwahyukan kepada nabi Muhammad antara tahun 610-632, merupakan wahyu terakhir sebelum berakhir kehidupan dunia. Nama ajaran ini dinyatakan dalam Al Qur'an (5:3), yang diturunkan pada haji Wada' (perpisahan).
b. Islam merupakan agama universal yang terakhir, yang saat ini (th.1988) pemeluknya sekitar 800 juta jiwa.
Sementara kata islamisasi adalah kata benda dari "mengislamkan", sehingga dapat difahami kata islamisasi adalah "pengislaman" atau upaya mengislamkan.
Dari pengertian-pengertian di atas maka kata islamisasi dapat diartikan sebagai upaya mengislamkan, yang dimaksud adalah menyerahkan, menyelamatkan dan mendamaikan.

b. Pengertian Sains
Di dalam Longman Dictionary, sains yang berasal dari kata "Science" (bahasa Inggris), diberi pengertian sangat singkat, yaitu:
" Something that may be learned sistematically"
Sains adalah sesuatu yang dapat dipelajari secara sistematis.
Dalam kamus Dwi Bahasa "OXFORD" karangan Joyce M. Hawkins, Sains diberi pengertian sebagai berikut:
"Science is branch of knowledge requiring systematic study and
methode especially dealing with substances, life and natural laws."

Sains merupakan bagian dari pengetahuan yang dikaji secara metodik dan sistematis yang khusus berkaitan dengan substansi-substansi kehidupan dan hukum-hukum alam.
Secara sederhana paling tidak dapat difahami bahwa sains merupakan pengetahuan yang eksistensinya menuntut metode dan sistematika.
Sementara dalam perspektif filsafat, sains yang dalam pengertian aslinya adalah:
" The study of science in the broadest sense, its nature, aims,
methodes, tools, parts, range, and relations to other subjects."

Studi mengenai pengetahuan dalam pengertian yang sangat luas adalah berkaitan dengan lingkup, tujuans, metode-metode, media-media, bagian-bagian, urutan-urutan dan hubungan-hubungannya dengan hal lain.
Dari ke-tiga pengertian di atas ada satu kata yang tidak tertinggal, yaitu sistematis. Jelas sustu pengatahuan yang disebut sains harus memilki sifat metodik sistematis. Di mana kebenarannya dapat diujikan oleh siapaun asalkan menggunakan sistematika yang sama.
Sementara itu dalam perspektif Al-Qur'an, kata Sains, 'Ilm, Knowledge dan pengetahuan adalah sesuatu yang identik.
Adapun salah satu ayat Al-Qur'an yang berbicara mengenai sains (pengetahuan alam). Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Faathir ayat 27:

أَََلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ اَنْزَلَ ِمنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخْرَجَ بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوِانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيْضٌ وِحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَاِبيْبُ سُوْدٌ.

" Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat".

Di dalam tulisan ini tidak ditampilakn dari tafsiran ayat di atas, tetapi sekilas saja dapat dilihat bahwa ayat tersebut tidak menafikan adanya pengetahuan mengenai alam ciptaan Allah, yang di dalamnya banyak terkandung misteri pengetahuan.
Muhammad Ali Al Khuli, seorang penulis buku " Islam dan Peradaban Islam" dengan judul asli Al Islam wal Hadharah Al Gharbiyah, yang menyoroti peradaban Barat dan mengkomparasikan dengan konsep-konsep Islam, ia memberikan gagasan mengenai Islamisasi Sains. Dalam bahasanya yaitu Aslamatu al Ma'rifat, sebagai berikut:
" أسلمة المعرفة هو ان يبقى الإسلام مركز حياتنا، مركز علومنا، مركز تفكيرنا، مرجعنا الأول".
"Islamisasi Sains merupakan penempatan Islam sebagai satu-satunya central referensi kehidupan kita, central ilmu, central filsafat dan referensi utama".
Selanjutnya dari beberapa pengertian di atas, Islamisasi sains dapat dimengerti sebagai proses penyelamatan pengetahuan agar menjadi instrumen perdamaian dunia dengan mereferensi kepada Islam sebagai central utama.
Adapuan kaitanya dengan tekhnologi elektronika, jika dikaitkan dengan fenomena pornografi maupun pornoaksi yang dapat menghancurkan kehidupan moral yang juga sangat mungkin teraktualkan dalam kerusakan-kerusakan kehidupan manusia yang bnersifat materi, dapat dikendalikan dan bahakan sangat mungkin dapat di selamatkan dengan kembali kepada konsep-konsep keilmuan Isalam.

II. SAINS DAN KONSEP PEMIKIRAN ISLAM

Berawal dari anggapan bahwa jika akan mempelajari sains seseorang selazimnya sejenak meninggalkan agama dalam pengertian meninggalkan konsep agama sebagai satu-satunya konsep yang sudah pasti akan menjawab semua permasalahan filsafat. Tentang ini jelas akan dapat lebih dijernihkan dengan landasan berfikir yang bahwasannya konsep-konsep agama merupakan konsep teologis yang juga bersifat doktrinitif.
Mengalihkan diri dari perspektif agama untuk sementara tidaklah akan melanggar aturan agama itu sendiri. Khususnya dalam perspektif yang dibangun oleh regulasi persepsi dalam menelurkan sebuah wacana kebenaran konklustif. Struktur regulasi tersebut paling tidak dapat difahami dari tatanan syariat di dalam Islam yang dimulai dari ketetapan aturan yang digagas melalui Al-Qur’an kemudian Al-Sunnah dan sampai pada konsep Ijtihad yang pada tatnan ini pada hakikatnya memang sudah keluar dari dua konsep utama di atasnya.
Konsep ijtihad yang ditawarkan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai proses meninggalkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah, melainkan ia adalah proses penterjemahan dari sumber asal yaitu ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap sebagai ayat-ayat dhoni.

A. Perkembangan Sains
Di era modern seperti sekarang ini sains merupakan fenomena dari perkrmbangan zaman itu sendiri. Perkembangan dari masa-kemasa takkan dapat dielekkan lagi. Dan sains juga merupakan fenomena dari kemajuan peradaban dunia. Kemudian juga sains di masa seperti sekarang ini merupan fenomena lain dari sisi kehidupan manusia yaitu sis ke-tidak puasan manusia dengan peradaban yang dimilikinya. Sebagaimana sebenarnya sangat disadari bahwa tiada akan pernah ada titik puas dari makhluk yang bernama manusia itu sendiri.
Dari zaman tokoh terkemuka pertama, Sokrates. Perkembangan pengetahuan terus menunjukkan eksistensinya sebagai bagian besar dari aktifitas dunia. Dari masa kemasa hingga zaman modern dan akhirnya masuk pada postmodern, sains terus sibuk diperbincangkan.
Tekhnologi yang merupakan hasil dari prodak sainspun turut memegang peranan yang amat besar dalam peradaban dunia, yang kadang kala membangun dan memperbaiki juga kadang kala menghancurkan kehidupan pula. Adakah kontrol yang berpotensi dalam hal ini? Sebuah kontrol yang hanya memberlakukan tekhnologi sebagai pemelihara kelestarian dunia dan bukan menghancurkan kehidupan dunia.
Seorang tokoh filsuf postmodernitas, Frans Kafka. Mengemukakan gagasannya mengenai dunia. Ia berpendapat bahwa sebenarnya yang menyentuh satu saraf penting kehidupan yang dijalani masyarakat industri modern, adalah kerangka dunia yang penuh teka teki. Yang dalam karyanya itu melukiskan nihilisme tanpa Tuhan.
Gagasan di atas menunjukkan betapapun tingginya pengetahuan yang dicapai oleh para ilmuan postmodernisme, tetap saja mustahil tanpa adanya Tuhan. Karena mereka takkan mampu menguakkan tabir teka-teki kerangka dunia yang pada dasarnya mereka hanya dapat mencapai setitik kecil saja dari misteri ilmu Tuhan.
Sampai kapanpun sains merupakan prodak dari filsafat. Jadi bagaimanapun hebatnya hasil dari kajian sains tetaplah ia sebagai pengembangan dari filsafat. Dan seorang filsuf sendiri jika ia tidak ingin tersesat maka sudah selazimnya jika segala apa yang diketahuinya ia sandarkan kepada agama. Sebagaimana dikutipkannya ungkapan Mulla Muhsin Faidh Al-Kanjani dalam bukunya "manhaj Al-Baidha", ia menyatakan bahwa " Orang yang mau belajar prodak-prodak filsafat, pertama-tama harus mempelajari Ilmu Agama."

B. Sekilas Mengenai Konsep Pemikiran Islam
Konsep-konsep pemikiran Islam yang bersifat ijtihadi, yang dimaksud di sini tidak begitu saja terpaku dengan konsep-konsep yang ada pada Al-Qur'an dan Al-Sunnah saja. Dalam mencetuskan suatu gagasan pemikirannya itupun bermacam-macam faham dan melahirkan beberapa aliran. filsafat Islam dalam satu aliran yang rigid. Sebagai contoh, paham Neoplatonisme yang berkembang di kalangan filsuf Islam dianggap sebagai titik temu ajaran Plato dan Aristoteles.
Padahal, pada saat ini kita mengetahui bahwa dua filsuf ini memiliki jalan yang berbeda dengan Neoplatonisme yang dimaksud. Buku yang dianggap sebagai karya Aristoteles saat itu adalah Theology. Namun belakangan diketahui bahwa buku tersebut adalah karya tambahan dari Enneads-nya Plotinus. Karenanya akan lebih aman bila kita mengatakan bahwa ada banyak corak Neoplatonisme dari pada hanya ada satu corak Neoplatonisme.
Hal serupa juga dinyatakan oleh cak Nur dalam bukunya, Islam Doktrin dan Peradaban, bahwa paham Neoplatonisme yang sampai dan berkembang di kalangan filsuf Islam sudah tercampur dengan penafsiran Aristotelianisme.[1] Sementara ajaran Aristoteles yang dipelajari oleh para filsuf Islam sebenarnya sudah bukan ajaran Aristoteles yang murni melainkan ajaran-ajaran dari para penafsir Aristoteles. Sehingga dengan demikian bukan Aristoteles sendiri yang berpengaruh dalam filsafat Islam melainkan Aristotelianisme.[2]
Untuk meneropong beberapa kecenderungan aliran dalam filsafat Islam, penulis menyajikan dua aliran yang menjadi kecenderungan sebagian besar filsuf
Islam, yakni aliran Peripatetik dan aliran Iluminasi. Pada umumnya gaya berfilsafat peripatetik menjadi kecenderungan para filsuf Islam yang berada di wilayah barat seperti Andalusia. Sementara pada aliran Iluminasi, mereka yang mencoba memadukan filsafat Yunani dengan kebijaksanaan timur (oriental wisdom), pada umumnya berdiam di wilayah bagian timur seperti Persia dan Suriah.

1. Peripatetisme
Filsafat peripatetik dapat kita lihat pada gejala Aristotelianisme. Para filsuf Islam yang masuk dalam kategori filsuf peripatetik diantaranya adalah Ibnu Bajjah (wafat 533 H/ 1138 M), Ibnu Tufail (wafat 581 H/ 1185 M) dan Ibnu Rushd (520-595 H/1126-1198 M). Abad ke-11 menjadi saksi atas munculnya sejumlah ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar ilmiah yang genuine. Puncak dari perjalanan ini ada pada kelahiran kembali Aristotelianisme. Peripatetik yang dalam bahasa Arab dikenal dengan nama al-Masyai’yyah berarti orang yang berjalan diambil dari kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan dalam mengajar.
Untuk melihat corak filsafat peripatetik, ada baiknya bila kita melihat beberapa filsuf yang berasal dari wilayah barat ini sekilas. Ibnu Bajjah yang dikenal Avempace dalam bahasa latin telah menempatkan diri sebagai filsuf yang berdiri pada tradisi Neoplatonik-Peripatetik yang diperkenalkan oleh al-Farabi.
Bagi Ibnu Bajjah, al-Farabi adalah satu-satunya guru logika, politik dan metafisika yang berasal dari wilayah timur. Tampaknya Ibnu Bajjah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan filsuf wilayah timur yang satu ini. Hal ini dapat kita lihat juga pada karya Ibnu Bajjah yang berjudul Tadbir al-Mutawahhid yang mendasarkan pada pemikiran al-Farabi dengan cukup kental. Kedekatannya dengan al-Farabi yang dikenal sebagai guru kedua dalam filsafat di mana guru pertamanya adalah Aristoteles telah memberi warna tersendiri bagi metode filsafat Ibnu Bajjah.
Salah satu pemikiran Ibnu Bajjah adalah tentang empat tipe mahluk spiritual. Tipe pertama adalah bentuk-bentuk dari benda-benda langit (forms of the heavenly bodies) yang sama sekali bersifat imateriil. Ibnu Bajjah menyamakan tipe ini dengan akal-akal terpisah (separate intelligences) yang dalam kosmologi.
Aristotelian dan Islam diyakini sebagai penggerak benda-benda langit. Tipe kedua adalah akal capaian (mustafad) atau akal aktif yang juga bersifat immateriil. Tipe ketiga adalah bentuk-bentuk materiil yang diabstraksikan dari materi. Sedangkan tipe yang keempat adalah representasi-representasi yang tersimpan dalam tiga daya jiwa: sensus communis, imajinasi dan memori. Seperti bentuk-bentuk materiil, bentuk-bentuk ini juga dinaikkan ke tingkat spiritual melalui fungsi abstraktif yang terdapat pada jiwa manusia. Puncak dari fungsi abstraktif ini ialah pemikiran rasional.
Tokoh filsafat perpatetik lainnya adalah Ibnu Tufail yang lahir di Wadi ‘Asy dekat Granada. Salah satu karya yang cukup terkenal dari Ibnu Tufail adalah sebuah roman yang berjudul Hayy ibn Yaqzhan. Judul karya ini memang sama dengan dengan karya yang telah dibuat sebelumnya oleh Ibnu Sina. Dalam buku ini, Ibnu Tufail menekankan kebijaksanaan timur yang dapat diidentifikasikan sebagai tasawuf yang saat itu banyak ditolak oleh banyak filsuf, termasuk Ibnu Bajjah. Melalui karyanya ini, Ibnu Tufail mengaku dapat memecahkan pertentangan yang timbul antara filsafat dan agama atau akal dan iman. Dua hal yang bertentangan ini dapat diumpamakan sebagai kebenaran internal dan kebenaran eksternal yang pada prinsipnya sama-sama kebenaran.
Namun dua macam kebenaran ini tidak bisa digeneralisasikan untuk siapa saja tanpa melihat kecerdasan yang dimiliki oleh orang bersangkutan. Karena kebenaran filsafat hanya dapat dicapai oleh orang-orang khusus yang memiliki kecerdasan yang tinggi maka ia tidak bisa diberikan begitu saja kepada orang awam. Sementara kebenaran agama yang melalui kitab suci Alquran yang menggunakan bahasa inderawi dan makna-makna harfiah akan dapat dengan mudah difahami oleh orang pada umumnya (awam).
Ibnu Rushd merupakan tokoh puncak dalam aliran filsafat peripatetik. Karena perkembangan filsafat paska Ibnu Rushd sudah mengambil jalan yang lain, yakni Iluminasi. Ia lahir pada 1126 M di Kordoba dan mempelajari banyak bidang, mulai bahasaArab, fikih, kalam hingga kedokteran. Seorang khalifah pernah memerintahkannya untuk menjelaskan karya-karya Aristoteles karena sangat sulit untuk dipahami.
Ibnu Rushd menulis komentar secara komprenhensif mengenai karya-karya Aristoteles kecuali politics. Karya Aristoteles, Physics, Metaphysics, De Anima, De Coelo dan Analytica posteriora dikomentari oleh Ibnu Rushd dalam tiga versi, “komentar lengkap”, “komentar sedang” dan “komentar singkat.”
Karya-karya Ibnu Rushd yang lebih orisinal dapat kita baca pada polemiknya dengan Imam al-Ghazali tentang kesesatan para filsuf pada Tahafut al-Tahafut (kerancuan dari buku Tahafut karya al-Ghazali). Atau pada Fashl al-Maqal dan al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah yang menyerang teologi al-Asy’ary dan menjelaskan hubungan filsafat dan agama yang sangat hangat pada saat itu. Dalam perdebantannya dengan para teolog mengenai penciptaan, Ibnu Rushd banyak diinspirasikan oleh pandangn Aristoteles.
Menurut Ibnu Rushd, ‘penciptaan’ merupakan tindakan menggabungkan materi dengan bentuk atau teraktualisasinya potensi menjadi aktus. Jadi penciptaan bukanlah sesuatu yang berasal dari ketiadaan (creatio ex nixilo). Pandangan Ibnu Rushd yang ia petik dari buah pikiran Aristoteles ini berimplikasi pada proses tergabungnya bentuk dengan materi. Tuhan dalam hal ini menjadi pencipta unsur-unsur dari gabungan itu sendiri, yang tak lain adalah alam semesta. Pengabungan ini dapat berlangsung secara terus-menerus atau sekaligus. Bagi Ibnu Rushd, hanya penciptaan yang terus-menerus (ihdats da’im), seperti yang ia katakan dalam Tahafut al-Tahafut yang layak bagi penciptaan alam.

2. Illuminasionisme
Filsafat iluminasi yang dalam bahasa Arab disebut dengan Hikmat al-Isyraq dapat kita ikuti jejaknya mulai dari al-Maqtul Syihab al-Din al-Suhrawardi. Ia lahir di Aleppo, Suriah pada 1154 dan dihukum mati oleh Shaladin pada 1191 atas tuduhan kafir seperti yang diklaim oleh para teolog dan fuqaha. Dalam banyak risalah, al-Suhrawardi menyatakan bahwa pendapat-pendapatnya sesuai dengan metode peripatetik konvensional yang ia sebut sebagai metode diskursif yang baik.
Namun metode tersebut tidak lagi memadai bagi mereka yang berusaha mencari Tuhan atau bagi yang ingin memadukan metode diskursif dengan pengalaman batin sekaligus.
Menurut al-Suhrawardi, agar dapat melakukan tugas ini, seseorang dapat mengambil jalur filsafat iluminasi atau Hikmat al-Isyraq Inti dari ajaran hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi adalah tentang sifat dan pembiasan cahaya. Cahaya ini, menurutnya, tidak dapat didefinisikan karena merupakan realitas yang paling nyata dan yang menampakkan segala sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk ke dalam komposisi semua substansi yang lain. Segala sesuatu selain “Cahaya Murni” adalah zat yang membutuhkan penyangga atau sebagai substansi gelap. Objek-objek materil yang mampu menerima cahaya dan kegelapan sekaligus disebut barzakh.
Dalam hubungannya dengan objek-objek yang berada di bawahnya, cahaya memiliki dua bentuk, yakni cahaya yang terang pada dirinya dan cahaya yang menerangi yang lain. Cahaya yang terakhir ini merupakan penyebab tampaknya segala sesuatu yang tidak bisa tidak beremanasi darinya. Di puncak urutan wujud terdapat cahaya-cahaya murni yang membentuk anak tangga menaik.
Pada bagian tertinggi dari urutan anak tangga ini disebut Cahaya di atas Cahaya yang menjadi sumber eksistensi semua cahaya yang ada di bawahnya, baik yang bersifat murni maupun campuran. Oleh al-Suhrawardi cahaya ini juga disebut Cahaya Mandiri, Cahaya Suci atau Wajib al-Wujud. Filsuf yang juga banyak diinspirasikan oleh Hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi namun kemudian memodifikasinya ajaran tersebut sedemikian rupa sehinga menjadi ilm al-huduri (knowledge by presence) adalah Mulla Shadra.
Mulla Shadra lahir di Syiraz, Persia pada tahun 1572 dan belajar pada guru-guru Isyraqi yang pada saat itu sedang menggejala di dalam tradisi filsafat Persia. Karya yang menjadi magnum opus Mulla Shadra adalah Hikmat al-Muta’aliyah (hikmat transendental) yang lebih dikenal dengan al-asfar al-arba’ah (empat perjalanan).
Empat perjalanan yang dimaksud oleh Mulla Shadra dikemukakan dalam al-asfar al-arba’ah sebagai berikut: pertama perjalanan dari makhluk menuju Tuhan, kedua perjalanan menuju Tuhan melalui bimbingan Tuhan, ketiga perjalanan dari Tuhan menuju makhluk melalui bimbingan Tuhan, dan yang keempat adalah perjalanan di dalam makhluk melalui bimbingan Tuhan.
Berikut ini diagram yang menggambarkan bagaimana Mulla Shadra melanjutkan tradisi isyraqi yang ada sebelumnya: Cahaya Tertinggi:

(Wajib al-Wujud)
Alam Perintah atau Entitas-Entitas Lunak
(Alam Kawruhan)
Bentuk-bentuk Kawruhan
Jiwa Manusia
Falak Universal
(Falak Luar)
Alam Ciptaan
(Alam Materiil)

Salah satu pemikiran Mulla Shadra yang sampai kini masih fenomenal dalam tradisi filsafat di Persia (baca: Iran - saat ini) adalah tentang ‘ilm al-huduri atau knowledge by presence. Ilmu ini biasanya dipertentangkan dengan knowledge by representation (‘ilm al-husuli).
Menurut Mulla Shadra perbedaan antara ‘ilm al-huduri dengan ‘ilm al-Husuli ada pada hubungan antara subjek penahu dengan objek yang diketahui. Dalam ‘ilm al-husuli (knowledge by representation), hubungan antara subjek dengan objek jelas terpisah sehingga ada konsep dualisme di dalamnya.
Sementara pada ‘ilm al-huduri (knowledge by presence) dualisme itu hilang. Yang ada adalah kesatuan antara subjek penahu dan objek yang diketahui. Ia adalah seorang pakar ‘ilm al-huduri kontemporer, Mehdi Ha’iri Yazdi menulis sebuah buku khusus tentang ‘ilm al-huduri dalam The Prisnciple of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence.
Dari uraian-uraian di atas mengenai kilas parjalanan pemikiran dalam Islam pasca-Rasulullah dan sahabat, gelombang kebudayaan pra-Islam tidaklah dapat dipisahkan dari perkembangan peradaban Islam klasik yang banyak disebut oleh sejarahwan muslim sebagai masa-masa kejayaan Islam atau golden age. Proses penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India hanya salah satu pintu dialog antar peradaban, sementara tanpa proses reproduksi, penerjemahan hanya menjadi tumpukan karya yang sudah dialihbahasakan belaka.
Karenanya, dukungan penguasa saat itu dan dengan gairah keilmuan umat Islam yang luar biasa menjadikan gelombang kebudayaan ini tidak sia-sia. Segala upaya, baik materil maupun semangat juang yang telah ditorehkan dalam bentuk maha karya telah menjadi pilar-pilar peradaban Islam yang sangat menentukan.
Bila peradaban Islam klasik banyak ditopang oleh kebudayaan sebelumnya, hal yang sama juga dialami oleh bangsa Barat pada abad kelimabelas. Semangat kelahiran kembali (renaissans) yang dikobarkan oleh masyarakat Eropa Barat tidak bisa dilepaskan dari peran ilmuwan muslim yang telah menularkan semangat pengetahuan pada masayarakat Eropa saat itu.
Khusus dalam bidang filsafat, Jamil Shaliba pernah memberikan catatannya atas pengaruh pemikir Islam di dunia Barat (Eropa). Menurutnya pengaruh peradaban Islam klasik bagi peradaban Barat Modern masih lebih besar dibandingkan dengan pengaruh peradaban Yunani bagi peradaban Islam klasik. Pada saat ini, setelah terjadi kebangkitan di dunia Islam, umat kembali harus banyak belajar dari para pemikir barat yang sudah jauh meninggalkan dunia Islam.

III. REFLEKSI TEORITIK
Bercermin dari fakta sejarah zaman keemasan Islam dalam ilmu pengetahuan, Terdapat sebuah fenomena peran serta politik pada saat itu. Peran politik ini dimainkan oleh kaum penguasa, di mana dengan kekuasaanya ternyata mampu mengakomodir setiap sudut pola kehidupan. Bahkan perjalanan kehidupan pengetahuanpun dapat dicentralkan sesuai dengan keinginan para penguasa tersebut. Dengan alasan logis, siapapun yang menentangnya akan tidak diberi kesempatan mengembangkan pengetahuannya.
Merealisasikan islamisasi sains saat ini khususnya di Indonesia, perlu dibangun sebuah pemahaman yang menggagas mengenai "The Very Big Power" sangat mungkin dimiliki oleh penguasa siapapun dan dimanapun. Dalam gelombang besar sejarah keilmuan, Islam pernah menempati masa keemasan "Golden Age", yang kemudian dengan ruda-paksa direbut oleh bangsa barat. Dikatakan dengan ruda-paksa, karena pada kenyataanya perolehannya merupakan imbas kemenangan bangsa barat dalam perebutan kekuasaan dengan penguasa Islam.
Peran penguasa dalam mepolitisir sains tentu merupakan sesuatu yang diharapkan pengaktualisasiannya, bukan sekedar wacana apalagi bersifat monumental.
Lebih mengerucut pada pokok permasalahan islamisasi media elektronik TV dan Internet, ada langkah-langkah riil namun membutuhkan konsekuensi yang sangat besar, berkaitan dengan materi, sosial dan mungkin juga dengan hubungan diplomatik antar negara.
Bentuk gagasan tegas yang mungkin dapat dilakukan adalah:
1. Melahirkan undang-undang realistis mengenai penyiaran dengan landasan konsep Islam, walaupun tidak harus dinyatakan dengan undang-undang Isalm, menselaraskan dengan kedemokrasian negara.
2. Memblokade lintas siar (jaringan penyiaran); Yaitu pembatasan jaringan penyiaran dan atau sensor yang ketat dengan mereferensi kepada undang-undang di atas.
3. Mampu mengadakan sensorisasi informasi internet, yang dalam hal ini membutuhkan kemampuan yang memadahi dalam bidang teknologi informatika khususnya mengenai penyebaran informasi melalui media ini.
Untuk tingkat negara seperti Indonesia, ini sangat mungkin. Tetapi untuk kehidupan ilmu pengetahuan tingkat dunia tentu membutuhkan wacana yang lebih besar lagi. Di mana realita kehidupan dunia sekarang ini sangatlah komplek.

KESIMPULAN
Di zaman seperti sekarang ini untuk dapat mereduksi pengetahuan berperspektif Islam harus melalui media politik. Di mana yang memegang kontrol perkembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan adalah penguasa. Di negara manapun dan di belahan dunia manapun.
Wilayah belahan dunia yang mungkin mewarnai perkembangan sains dengan konsep-konsep kehidupan Islam adalah bangsa-bangsa yang memilki potensi politik dan penguasa Islam dan atau menjalankan agama Islam.
DAFTAR PUSTAKA


'Ali Al Khuli, Dr, Al Islam wal Hadharah Al Gharbiyah, Darul Falah, 'Aman, 2000 A.R. Lacey, A. Dictionary of Philoshophy, Routledge, London, 2000, hlm. 307
Ciryl Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet.2, 1998
Djono, Drs, H, hlm. 2 Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Lektur, STAIN Cirebon, Seri VIII
http://www.bu.edu/wcp/Papers/TKno/TKnoMesb.htm, Ali Mesbah, Subject-Object relation in Mulla
Joice M. Hawkins, Kamus Dwi Bahasa OXFORD, Erlangga, Jakarta, 1996
John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Kanisius, Yogyakarta, Cet. 5, 2005
Longman Dictionary, Chancelor, Cet. 4, 1998
Mahdi Ghulsyaini, Dr, Filsafat Sains Menurut AL-Qur'an, Mizan, Bandung Cet. 10
Majid Fakhry, Sejarah Filsfat Islam Sebuah Peta Kronologis, hal, 100, Mizan, Jakarta 2002.
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal. 226, Paramadina, Jakarta, 2000
Toni Greener, Kiat Sukses Publik Relations dan Pembentukan Citranya, Bumi Aksara, Cet. 3 2002
Oliver Leamen, Pengantar Filsafat Islam Sebuah Pendekatan Tematis, hal. 4, Mizan, Jakarta, 2001.
Toni Greener, Kiat Sukses Publik Relations dan Pembentukan Citranya, Bumi Aksara, Cet. 3, 2002




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar