blUe is confidence

Loading...

Rabu, 22 April 2009

DAI DAN KONFLIK PERSPEKTIF DALAM ISLAM

(Rekonstruksi Pemahaman Dai dan Peranannya dalam Memelihara Persaudaraan,Persatuan dan Kesatuan Umat Islam)

I. PENDAHULUAN

"Ada seseorang menyusun sebuah kitab tentang perbedaan pendapat dan diberi judul 'Perbedaan Pendapat". Melihat ini Imam Ahmad berkata kepadanya, "Jangan kamu beri judul buku "Perbedaan Pendapat" namun berilah judul "Keluasan Pendapat". Di kalangan ulama ada ungkapan yang popular berbunyi

Ijmak mereka adalah argumentasi yang pasti, sedangkan perbedaan pendapat mereka adalah rahmat yang luas"

Istilah keluasan pendapat pada ungkapan bijak di atas tentu memiliki makna yang amat mendalam, Imam Ahmad tentu telah mempertimbangkan betapa kata "keluasan" tentu lebih meninggikan derajat manusia yang lahir dengan dibekali akal fikiran yang tentu
semata-mata hanya dapat digunakan untuk kepentingan dari perorangan atau goloangan. Tentu saja dalam memahami kata "keluasan" lebih akan terasa betapa ternyata manusia telah diberikan sesuatu yang amat berharga yaitu akal yang digunakan untuk berfiakir, dibandingkan dengan kata "perbedaan" yang rentan dengan lahirnya satu konflik karena dianggap tidak sefaham satu sama lain.
Persoalan konflik perspektif dalam memahami Islam bukan merupakan hal baru, kendatipun akan selalu aktual dari generasi ke generasi yang hanya Allah yang tau sampai kapan generasi muslim akan berakhir di muka bumi ini. Jika kembali pada sejarah, maka akan didapati mengenai persoalan konflik perspektif tersebut yang memang berakar dari konflik yang diwariskan oleh para sahabat pasca Usman r.a., yang terus berkembang samapai saat ini.
Bila dikaji secara mendalam mengenai konflik perpektif dalam Islam, maka akan terkait dengan perbedaan perseptif atas sesutu yang jika disadari sepenuhnya bahwa perihal persepsi akan berkaitan dengan pikiran yang selanjutnya kepada hati yang akan meyakini suatu persepsi yang secara fitri tak seorangpun dapat memaksakan suau persepsi, apalagi memaksakan meyakini suatu persepsi.
Selanjutnya berkembangnya konflik perpektif tidak hanya berhenti sebatas pada perdebatan ataupun adu argumentasi untuk mempertahankan kebenaran persepsi masing-masing umat Islam itu sendiri. Konflik perspektif pada kenyataannya dapat berkembang pada suatu tindak kekerasan bahkan saling mengalirkan darah sesame penganut agama yang sama, yaitu Islam yang amat mulia yang dikirim dari langit sebagai pedoman hidup umat manusia. Idealnya dengan berpedoman pada ajaran Islam akan menjadikan kehidupan umatmanusia di dunia ini hidup dengan penuh kedamaian. Di situlah letak betapa lemahnya manusia, dengan berpedoman pada satu agama yang amat sempurna-pun mereka masih harus menebarkan konflik yang sulit dihentikan dan tak terkendalikan.
Dalam situasi yang amat sulit tersebut, bukan tidak ada celah sama sekali untuk melahirkan tindakan solutif yang diharapkan dapat mengurangi atau meredakan koflik perspektif yang mengarah pada perdebatan dan anarki. Ada beberapa bagian dari umat manusia yang memiliki posisi strategis dalam kancah ini. Jika pada era hidupnya nabi mulia Muhammad saw., segala persoalan yang memiliki multi interpretasi tentu dapat diselesaikan secara tuntas oleh nabi Muhammad saw., tentau kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi pada saat itu. Kendatipun sampai saat ini banyak ulama yang mewarisi ilmu agama dari zaman Rasulullah sampai saat ini, namun tentu sudah dimaklumi bahwa mereka para pewaris ilmu agama secara fiitrah diberikan daya interpretasi yang tidak selalu sama.
Jika meihat persoalan di atas, mungkinkan justru para pewaris ilmu agama tersebut yang telah pula mewariskan konflik perpektif dibalik pewarisan ilmu agamanya? Berdasarkan analisa terhadap perjalanan pewarisan pengetahuan agama Islam, tentu tidak dapat dipungkiri bahwa pewarisan pengetahuan yang sarat dengan multi interpretasi itulah yang menelurkan konflik perspektif di kalangan sebagian umat Islam.
Namun demikian justru para ulama yang memiliki predikat dai akan lebih memiliki posisi yang amat strategis untuk tetap menjaga kesatuan umat dengan seruan-seruan mereka. Walaupun kenyataannya baik ulama secara umum dan dai pada khususnya sama-sama memiliki tanggunga jawab melestarikan agama Allah di muka bumi, namun yang menyentuh masyarakat secara langsung adalah dai.

II. DAI DALAM ISLAM

A. Pengertian Dai

Sungguhpun kata dai bukanlah sesuatu yang asing lagi dikalangan Islam sebagai sebutan bagi para penyampai dakwah dalam Islam. Namun tidak ada salahnya untuk memahami makna dai secara lebih proprsiaonal, sehingga kata dai selayaknya tidak sembarangan digunakan dalam kehidupan beragama khususnya dikalangan umat Islam. Pada akhirnya sebutan dai lebih disakralkan, tidak sembarang orang dapat menyandang sebutan kata tersebut, karena sebenarnya bila dikaji secara mendalam makna dai ternya amat mulia yang hanya layak disandangkan bagi mereka yang memiliki klasifikasi khusus dan sngat istimewa.
Keistimewaan sebutan kehormatan sebagai dai tidak layak jika harus dicemari dengan pengertian-pengertian baru yang bermunculan pada masa kini, semisal dai sebagai sebuah profesi. Fenomena yang demikian itu sangatlah memprihatinkan, karena dalam dua profesi yang ada adalah kerja dan imbalan (uang). Sedangkan sebutan dai paling tidak sarat dengan nilai-nilai luhur agama yang tentunya tidak dapat disebandingkan dengan materi. Oleh karena itu memahami makna dai secara fitrahnya amatlah penting, agar tidak ada ketimpangan antara kharisma dai dan pandangan masyrakat yang kian hari kian mengarah pada pelecehan sebutan yang amat hikmat itu.
Selanjutnya mengkonstruksi makna dai secara original kiranya sebagaimana uraian berikut:

1. Pengertian Dai Secara Etimologi
Berbicara perihal hakikat dai dalam Islam tentu tidak dapat terlepas dari makna etimologi maupun terminology. Secara etimologi "dai" berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata "daa (دعى)" yang artinya mengajak atau menyeru yang selanjutnya dai tersbut kemudian berarti "orang yang mengajak atau penyeru, propagandis, juru kampanye" .

2. Pengertian Dai Secara Terminologi
Secara terminology, beberapa ulama memberikan definisi sebagai berikut:
a.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية: "الدعوة إلى الله إلى الإيمان به، وما جاء به رسله بتصديقهم فيما أخبروا به وطاعتهم فيما أمروا"
"Menurut Ibnu Timiyah, berdakwa di jalan Allah adalah mengajak untuk beriman kepada-Nya, dan beriman terhadap risalah para rasulnya dan membenarkan apa yang mereka katakan, serta taat terhadap apa yang mereka perintahkan"


b.
قال ابن جريرالطبري:"هي دعوة على الإسلام بالقول والعمل".
"Menurut Ibnu Jurair At-Thabari, dakwah merupakan ajakan yang berupa perkataan dan perbuatan."
c.
قال الإمام ابن كثير: "الدعوة إلي الله هي الدعوة إلى شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا
شريك له".
"Menurut Ibnu Katsir, berdakwah di jalan Allah merupakan untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya"
Kata dai jika dilihat dari tugas seorang dai adalah menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar sebagai mana tertera dalam Al-Qur'an, surat Ali Imran ayat 104, maka dai adalah penyeru kepada kebajikan dan pencegah manusia dari hal yang buruk.
Bila dakwah Islam pada era Rasulullah saw yang secara garis besar tujuannya adalah pembebasan dari pelbagai perbudakan, mencapai keseimbangan antar materiil dan spiritual, jihad fi sabilillah, dan pembentukan umat Islam yang bersatu padu , mungkin beberapa tujuan tersebut sekarang ini sudah tidak relevan lagi, khususnya di Indonesia persoalan perbudakan tidak terdapat di Negara ini. Namun demikian bagaimana dengan persoalan yang lainnya dan bahkan mungkin perlu ditambahkan lagi tujuan-tujuan dakwah pada saat ini sesuai dengan fenomena sosial pada saat ini yang layak mendapatkan perhatian khusus dari para dai.

A. Dai dalam Perspektif Al-Qur'an

Di dalam Al-Qur'an dijelaskan mengenai hakikat dai di antaranya terdapat pada ayat sebagai berikut:
وَ لْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلىَ الْخَيْرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (Q.S. Ali Imran: 104)
Dalam tafsir Qurthubi dijelaskan bahwa kata "di antara kamu" ditujukan kepada para ulama, bukan kepada kepada seluruh umat manusia. Karena tidak semua manusi dapat disebut sebagai ulama. Sedangkan Ibnu Katsir menjelaskan kata di atas, yaitu khusus bagi para sahabat, para rawi, para mujahid dan ulama.
Dalam konteks ini antara Al-Qurtgubi dan Ibnu Katsir memiliki kesamaan persepsi, yaitu dai tentu sangat identik dengan ulama (orang yang mengerti Islam secara luas dan mendalam), oleh karena itu untuk disebut dai dalam Islam selayaknya ia memiliki kridibilitas sebagai seorang ulama, bukannya mendapat sebutan dai baru kemudian memperdalam ilmu pengetahuan untuk sekedar menyokong nama/sebutan sebagai seorang dai.

B. Dai dalam Perspektif Al-Hadits

بلّغوا عنّي ولو أية.
"Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat saja." (HR. Bukhari)

Persoalan dakwah tidak berhenti hanya sekedar dapat disampaikan, namun apakan sipendengar atau sasaran dakwah dapat terpengaruh terhadap hal-hal yang disampaikan oleh seorang dai. Secara lahiriah dalam kenyataan sehari-hari manusia cenderung melihat apakah si penyampai dakwah-pun melakukan hal-hal yang disampaikannya kepada masyrakat, walaupun imam Ali pernah mengatakan bahwa "agar kita mengambil sesuatu dari manapun asalnya" (انظر ما قال ولا تنظر من قال). Hal tersebut tentunya dapat dijadikan landasan untuk memaknai dai dalam kehidupan sosial saat ini.
Berkaitan dengan hal di atas, jati diri seorang dai tentu harus dihargai dengan konsekuan suri tauladan yang lazim bagi dai untuk memprktekan dalam kehidupan sehari-hari sehinggi kegiatan dakwah yang dijalani akan terasa lebih bermakna dan akan mendapat sambutan bagi masyarakat luas dan dijadikan panutan dalam meniti kehidupan beragama dan berinteraksi dalam kehidupan sosial satu agama pada khususnya dan terhadap umat agama-agama lainnya yang ada di dunia ini.

C. Dai dalam Perspektif Sosial

Ternyata dalam kehidupan, terlah ada pergeseran perspektif di kalangan masyarakan mengenai sosok dai yang pada asal mulanya adalah sosok yang dimuliakan di kalangan masyarakat dan diteladani. Hal peneladan terhadap seorang dai memang sudah menjadi satu keniscayaan bagi umat, namun apabila dai tersebut betul-betul memberikan teladan bagi masyarakat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Ustadz Musthafa Mansyur, bahwa keteladanan adalah unsure terpenting yang harus direalisasikan dalam berdakwah.

1. Pandangan Masyarakat Pramodern
Pandangan masyarakat pramodern terhadap dai sangatlah berbeda dengan pandangan masyarakat saat ini, dahulu seorang ulama atau dai dalam pandangan masyarakat amatlah mulia. Sebagai pewaris para nabi dan rasul yang memberikan teladan dalam perilaku kehidupannya. Dai pada masa itu tidak akan berani menyampaikan perihal agama jika ia tidaklah mumpuni dalam bidang pengetahuan agama. Konsep 'Irfan ataupun Tasawuf bukan hanya sekedar teori, namun betul-betul diamalkan oleh para ulama atau dai tersebut.
Adapun dalam penyampaian dakwahnya, ulama atau dai pada masa sebelum modern tidak terlalu mengutamakan kemampuan retorika, akan tetapi disampaikan dengan penuh kebenaran yang mendalam dan diimbangi dengan pengamalan yang mendalam pula. Sehingga fatwa-fatwa dari para ulama atau dai yang dibarengi dengan keteladanan sangatlah menyentuh hati yang paling dalam dari masyarakat.
Coba saja jika menengok kepada para ulama dahulu, seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain. Atau pula di Indonesia khususnya, kita kenal kyai Hasyyim Asy'ari, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, mereka tidak mengunggul-unggulkan retorika dalam berdakwah, namun keteladananlah yang sehingga kini dikenang dan mereka memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya.

2. Pandangan Masyarakat Modern
Fenomena dalam dunia dakwah sekarang ini menunjukkan betapa untuk menjadi seseorang yang memiliki predikat "Dai" amatlah mudah, dengan cukup mempelajari retorika yang baik sudah merupan jalan untuk mendapatkan predikat "Dai" dan dapat memberikan fatwa ke sana kemari. Selanjutnya yang terjadi adalah maraknya bermunculan orang-orang muda (kemarin sore) yang nota bene-nya masih dipertanyakan keilmuan dan keteladanannya.
Perlunya mengkaji ulang kembali tentang hadits Rasulullah yang menyatakan "sampaikanlah dariku walaupun satu ayat". Paling tidak harus bisa dibedakan antara mengajarkan dan memberikan petuah. Jika menyampaikan satu ayat diinterpretasikan sebagai menyampaikan pengetahuan semata-mata dan bukan fatwa, tentu tidak memiliki tanggung jawab moral dan pengaruh yang signifikan terhadap penerima pengetahuan tersebut. Namun jika menyampaikan pengetahuan diartikan sebagai penyampaian fatwa, maka hal itu akan membawa pesan moral sekaligus tanggung jawabnya bagi penyampai pengetahuan tersebut.
Dari beberapa uraian yang mengarah pada satu konstruksi perspektif mengenai pengertian dai, dapat dimaknai bahwa dai adalah orang yang menyampaikan dakwah agama untuk menjunjung tinggi nama Allah dan melestarikan agama-Nya dengan seruan dan tauladan kepada umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Jadi bukan semata-mata hanya dapat menyampaikan ajaran-ajaran agama maupun pengetahuan-pengetahuan agama, tetapi lebih dalam lagi suri tauladan merupakan ruh dari aktivitas dakwah itu sendiri.


III. EKSISTENSI DAI DALAM ISLAM

Fakta penyebaran agama Islam melalui dakwah bukanlah hal yang perlu dipertanyakan keberhasilannya, sehingga Islam menjalar ke berbagai penjuru dunia. Walaupun pada akhirnya karena Islam tersebar atas prakarsa para dai, dan penyampaian nilai-niali agama yang multi perspektif pada akhirnya menuai konflik dalam diri penganut agama yang mulia ini. Multi perspektif yang kian mencuat dari generasi ke generasi bukanlah hal yang mustahil dan merupakan hal yang merupakan sunatullah dengan diciptakannya manusia dengan kepemilikan persepsi yang berbeda satu sama lain. Hal itu merupakan fenomena alam yang tak terlepas dari peran sang pencipta yang menanugerahkan alat persepsi manusia yang kian hari kian kritis dengan keterlibatannya dalam meneliti dan memahami konsep-konsep agama yang mungkin dihubungkan dengan kehidupan nyata.
Dalam hal ini seorang dai saat ini yang notabenenya sebagai pemelihara persatuan dan kesatuan umat agar terus dapat bersatu dalam ikatan agama Allah, walaupun ada di antaranya yang masih bertugas menyerukan agama Allah ke daerah-daerah yang belum tersentuh ajaran Islam. Namun pada kenyataannya pada abad sekarang ini Islam sudah menjadi salah satu agama yang sangat fenomenal di antara agama-agama lain yang memiliki kuantitas penganutnya besar di belahan dunia ini.
Jika lebih difokuskan di Indonesia misalnya, eksistensi seorang dai pada umumnya bukan lagi sebagi penyeru agama, namun lebih dari itu tanggung jawab utamanya adalah pemelihara persatuan dan kesatuan umat Islam itu sendiri, di mana saat ini justru persoalan dai yang dihadapi lebih pelik dibandingkan dengan tugas dari pada saat penyebaran agama. Karena memelihara kesatuan dan persatuan umat tentu tidak terlepas dari pengaruh para ulama atau dai.
Selanjutnya untuk lebih jelasnya eksistensi dai pada saat ini dalam keikutsertaannya melestarikan persatuan dan kesatuan umat adalah sebagai berikut:

A. Sebagai Orang yang Berwenang Menjelaska Persoalan perbedaan Perspektif

Sesuai dengan pengertian dai sebagai penyampai atu penyeru, maka ia wajib mampu menjelaskan berbagai duduk persoalan dalam konflik perspektif dalam internal umat Islam. Dengan demikian tindakan bijak sangat diperlukan untuk tugas mulia tersebut, sehingga umat Islam tidak terjebak dalam panatisme yang berlebihan sehingga merasa paling benar sendiri. Ketika umat sudah terjebak dalam panatisme yang berlebihan dan tidak mau mengakui keluasan berfikir orang lain, saat itu rajutan konflik muali teranyam sedikit demi sedikit sehingga memunculkan perpecahan yang sangat mungkin akan menimbulkan pertikaian. Pada saat itulah kalangan yang tidak menginginkan Islam berjaya di muka bumi ini memanfaatkan situasi tersebut untuk mengadu domba dan terus memperuncing konflik tersebut untuk tujuan melemahkan umat Islam dengan memporak porandakan persatuan dan kesatuan umat Islam.
Dalam kondisi seperti ini, siapa yang patut dimintai pertanggung jawaban apabila umat Islam porak poranda tentu. Siapapun tentu akan membebankan kesalahan itu kepada para pemimpin umat Islam dan para pewaris nabi, yaitu mereka diberikan keluasan ilmu pengetahuan Islam. Dengan satu alasan bahwa sebenarnya kaum yang berilmu tentu memiliki kemampuan untuk menyampaikan pengertian-pengertian yang dapat digunakan sebagi media pemelihara persatuan dan kesatuan umat Islam.

B. Sebagai Teladan Bagi Umat dalam Menghadapi Konflik Perspektif

Di dalam kehidupan nyata ternyata untuk dapat dianut dan ditaati oleh masyarakat, bukan hanya keluasan ilmu saja. Karena keluasan ilmu saja tidak cukup untuk dapat mempropaganda masyarakat untuk menjalani suatu konsep berkehidupan dan dalam berfikir. Dengan tampilnya seorang dai dengan atribut teladan dalam kehidupan sehari-hari tentu akan lebih bermakna. Karena dengan menunjukkan sikap yang menghargai dan menghormati sesama umat Islam setidak tentu akan dapat meredam perpecahan yang mungkin muncul dari kalangan umat yang kurang memahami makna perbedaan perspektif dalam beragama. Sebaliknya kalau ulama atau dai sendiri memberikan tauladan yang tidak baik, seperti menganggap dirinya paling benar dan atau menyerukan kepada umat agar mengikuti pendapatnya yang dianggap paling benar, niscaya konflik akan mudah tercipta.

C. Pelopor dalam Menghargai Keluasan Perspektif, dan Sekilas Sejarah Pewarisan Kekuasaan dan Risalah Islam.

Berkaca dari sejarah betapa turun temurunnya kepemimpian tentu juga proses pewarisan risalah agama terjadi. Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat pada 632 M, para shahabat berkumpul di Majlis Bani Tsaqifah untuk memilih seorang khalifah (pengganti Nabi). Melalui sebuah proses konsensus yang cukup panas dan menegangkan akhirnya muncul Abu Bakar al-Siddiq sebagai khalifah pertama umat Islam. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Umar ibn Khattab. Pada masa Umar terjadi gelombang ekspansi untuk pertama kalinya. Tahun 635 M, kota Damaskus jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Tahun 641, Aleksandria menyerah pada tentara Islam di bawah pimpinan ‘Amr Ibn al-‘Ash. Singkat kata, dengan terjadinya gelombang ekspansi pertama ini, semenanjungArab, Palestina, Suria, Irak, Persia dan Mesir sudah masuk dalam wilayah kekuasaan Islam. Pasca Umar, kekhalifahan dilanjutkan oleh Utsman ibn Affan, mantu Nabi Muhammad Saw. Namun karena terjadi kecemburuan kekuasaan akibat dari sikap nepotisme Utsman, kekuasaannya diakhiri dengan pembunuhan terhadap dirinya. Kekhalifahan umat Islam saat itu betul-betul mengalami ujian berat. Kemudian tampil Ali sebagai pengganti Utsman. Namun kepemimpinan Ali telah membuat kecewa kubu Utsman karena tidak berhasil mengusut kematian Utsman hingga tuntas. Kepemimpinan Ali ini menjadi puncak dari sistem kekhalifahan dalam sejarah Islam yang kemudian akhirnya digantikan dengan sistem dinasti.
Setelah terjadi perang saudara antara Ali dan Mu’awiyah yang menjadi gubernur Damaskus saat itu, konflik kekuasaan di tubuh kekhalifahan memuncak hingga akhirnya Ali pun dibunuh oleh kelompok yang berasal dari kubunya sendiri karena telah menerima tahkim (arbitrase) dari pihak Mu’awiyah. Pada 661 M, Mu’awiyah membangun dinasti Bani Umayah dan dimulailah gelombang ekspansi yang kedua. Perluasan kekuasaan yang sudah dimulai sejak zaman Umar dilanjutkan kembali setelah beberapa lama banyak mengurusi masalah internal.
Namun konflik internal kembali terjadi di lingkungan dinasti yang menyebabkan kekuasaan Bani Umayah hanya berlangsung selama kurang lebih sembilanpuluh tahun dan kemudian diambil alih oleh Bani ‘Abbasiyah (keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muttallib – Paman Nabi). Bani Abbasiyah diwarisi kekuasaan yang cukup luas, meliputi Spanyol, Afrika Utara, Suriah, SemenanjungArabia, Irak, sebagian dari Asia Kecil, Persia, Afganistan dan sebagian wilayah Asia Tengah. Di beberapa wilayah kekuasaan itu merupakan pusat kebudayaan besar seperti Yunani, Suryani, Persia dan India. Karenanya beberapa khalifah pada masa Bani Abbasiyah lebih memusatkan pada pengembangan pengetahuan.
Semangat agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, terekspresi pada masa kekuasaan Bani ‘Abbasiyah, khususnya pada waktu khalifah al-Ma’mun (berkuasa sejak 813-833 M). Penerjemahan buku-buku non-Arab ke dalam bahasaArab terjadi secara besar-besaran dari awal abad kedua hingga akhir abad keempat hijriyah. Perpustakaan besar Bait al-hikmah didirikan oleh khalifah al-Ma’mun di Baghdad yang kemudian menjadi pusat penerjemahan dan intelektual. Sebuah perpustakaan yang sangat bagus sekali yang tidak didapatkan contohnya di dalam kebudayaan Eropa Barat. Para penerjemah yang pada umumnya adalah kamu Nasrani dan Yahudi bahkan penyembah bintang digaji dengan harga yang sangat tinggi.
Buku-buku yang ditejemahkan terdiri dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa Yunani, Suryani, Persia, Ibrani, India, Qibti, Nibti dan Latin. Keberagaman sumber pengetahuan dan kebudayaan inilah yang kemudian membentuk corak filsafat Islam selanjutnya. Dan perlu dikui bahwa di antara banyak pengetahuan dan kebudayaan yang ditejemahkan ke dalam bahasaArab, karya-karya klasik Yunani adalah yang paling banyak menyita perhatian. Khususnya karya-karya filsuf besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Beberapa karya dari kebudayaan Persia dan India hanya meliputi masalah-masalah astronomi, kedokteran dan sedikit tentang ajaran-ajaran agama. Seperti karya Al-Biruni (w. 1048), sejarahwan dan astronom muslim terkemuka, Tahqiq ma li Al-Hind min Maqulah (Kebenaran Ihwal Kepercayaan Rakyat India). Dalam tulisannya itu ia menguraikan kepercayaan fundamental orang-otang Hindu dan menyejajarkannya dengan filsafat Yunani. Atau terjemahan Ibn Al-Muqaffa’ (w. 759) yang berjudul Kalilah wa Dimnah (Fabel-fabel Tentang Guru) diterjemahkan dari bahasa Sanskerta yang merupakan penegetahuan sastra Persia.
Seperti yang dikatakan oleh Shaliba dalam bukunya, Al-falsafah Al-‘arabiyah, terbentuknya filsafat Islam terjadi dalam dua tahap. Pertama tahap penerjemahan dan kedua tahap produksi pengetahuan atau pemikiran. Setelah melewati tahap penerjemahan maka mulailah bermunculan filsuf-filsuf Islam yang mengambil jalur metode filsafat Yunani seperti yang dimulai dari al-Kindi hingga Ibnu Khaldun. Menurut Fazlur Rahman, yang disebut filsafat Islam dalam hubungannya dengan filsafat Yunani harus dilihat dalam konteks hubungan “bentuk-materi.” Jadi filsafat Islam sebenarnya adalah adalah filsafat Yunani secara material namun diaktualkan dalam bentuk sistem yang bermerk Islam. Sehingga dengan demikian tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa filsafat Islam hanya merupakan carbon copy dari filsafat Yunani atau Helenisme. Sementara Shaliba yang kurang lebih sependapat dengan pendapat Rahman, ia mengatakan bahwa salah satu perbedaan filsafat Islam dengan Yunani ada pada maksud dan tujuannya. Menurutnya, tujuan dari filsafat Yunani adalah lebih dilatarbelakangi nilai estetis sementara dalam filsafat Islam karena dorongan ajaran agama (Islam).

D. Penerjemah dan Buku-buku Yang Diterjemahkan
Perpustakaan Bait al-Hikmah yang didirikan oleh khalifah al-Ma’mun berisi para penerjemah yang terdiri dari orang Yahudi, Kristen dan para penyembah Bintang. Di antara para penerjemah yang cukup terkenal dengan produk terjemahannya itu adalah Yahya ibn al-Bitriq (wafat 200 H/ 815 M) yang banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran pemikir Yunani, seperti Kitab al-hayawan (buku tentang makhluk hidup) dan Timaeus karya Plato. Al-Hajjaj ibn Mathar yang hidup pada masa pemerintahan al-Ma’mun dan telah menerjemahkan buku Euklids ke dalam bahasaArab serta menafsirkan buku al-Majisti karya Ptolemaeus. Abd al-Masih ibn Na’imah al-Himsi (wafat 220 H/ 835 M) yang menerjemahkan buku Sophistica karya Aristoteles. Yuhana ibn Masawaih seorang dokter pandai dari Jundisapur (Wafat 242 H/ 857 M) yang kemudian diangkat oleh khalifah al-Ma’mun sebagai kepala perpustakaan bait al-hikmah, banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran klasik.
Seorang penerjemah yang sangat terkenal karena banyak terjemahan yang dilahirkannya adalah Hunain ibn Ishaq al-Abadi yang merupakan seorang Kristen Nestorian (194-260 H/ 810-873 M). Ia adalah seorang penerjemah yang dikumpulkan oleh Yuhana Ibn Masawaih dan kemudian belajar ilmu kedokteran darinya. Ia menguasai beberapa bahasa penting saat itu karena memuat banyak kebudayaan besar, seperti bahasa Persia, Yunani, Yunani dan bahasaArab. Hasil terjemahan Hunain ini dihargai emas oleh khalifah setimbang dengan berat buku yang diterjemahkannya. Buku-buku yang besar saat itu ia ringkas sehingga dapat dibaca dengan mudah oleh orang yang menggelutinya. Di antara buku yang ia terjemahkan ke dalam bahasaArab adalah buku Politicus, Timaues karya Plato dan Etika serta fisika karya Aristoteles. Masih banyak penerjemah yang lain yang telah menyumbangkan kemahiran dan penguasaan pengetahuan mereka bagi khazanah perpustakaan Bait al-Hikmah.
Di antara buku-buku filsafat terpenting yang diterjemahkan ke dalam bahasaArab oleh tim yang terdiri atas Hunain, Hubaisy sepupu Hunain dan Isa ibn Yahya murid Hunain adalah Analytica posteriora karya Aristoteles, Synopsis of the Ethics karya Galen serta ringkasan karya-karya Plato seperti Sophist, Permenides, Politicus, Republic dan Laws. Sementara karya-karya Aristoteles seperti Categories, Hermeneutica, Generation and Corruption, Nichomachean Ethics diarabkan oleh Ishaq ibn Hunain dari bahasa Suryani. Selain proses penerjemahan, masih cukup banyak juga buku-buku Yunani dan Suryani yang ditafsirkan atau diringkas oleh para penerjemah yang kebetulan menguasai pengetahuan tentang isi buku tersebut.
Namun demikian, proses penerjemahan yang terjadi secara besar-besaran ini tidak semuanya berhasil mancapai hasil yang sukses sebagai sebuah terjemahan yang layak. Ada beberapa buku terjemahan yang bahkan menyulitkan pembaca untuk memahami isi buku. Di antara orang yang menderita akibat buruknys mutu sebuah terjemahan adalah Ibnu Sina. Menurut Jamil Shaliba, Ibnu Sina pernah membaca buku terjemahan Metafisika Aristoteles sebanyak empat puluh kali, tetapi ia sama sekali tidak dapat mengerti maksud dari tulisan tersebut. Hal ini setidaknya dikarenakan dua hal, pertama karena memang sulit dan begitu dalamnya tulisan Aristoteles tentang Metafisika dan kedua karena kesulitan proses penerjemahannnya ke dalam bahasaArab. Buruknya beberapa mutu terjemahan juga dikarenakan metode terjemahan yang terlalu harfiah dari bahasa non-Arab ke dalam bahasaArab. Ibnu Abi Usbu’aih pernah mengkategorikan tingkat mutu terjemahan ketika itu, yakni tingkat baik seperti terjemahan Hunain ibn Ishaq dan anaknya Ishaq Ibn Hunain, tingkat sedang ada pada terjemahan Ibnu Na’imah dan Tsabit ibn Qurrah. Dan tingkat yang ketiga adalah buruk, seperti yang ada pada terjemahan Ibn al-Bitriq.
Dari lintasan sejarah mengenai alur pewarisan kekuasaan dan ilmu pengetahuan Islam ternyata memang telah diiringi oleh konflik, kendatipun pada saat itu konflik yang ada termotifasi oleh perebutan kekuasaan. Namun juga tercatat dalam sejarah bahwa konflik pada masa kehalifahan Sayidina Ali bin Abi Tholib pernah terjadi konflik yang dipicu oleh perbedaan peersepsi dalam memahami ajaran Islam. Hal itu artinya sangat mungkin juga terjadi di zaman seperti sekarang ini, di mana multi perspektif mengenai ajaran Islam kian marak.

IV. KONFLIK PERSPEKTIF DALAM ISLAM

Memahami konflik perspektif tentu tidak terlepas dari munculnya perbedaan pandangan terhadap masalah-masalah krusial yang notabene-nya merupakan persoalan yang dianggap tidak memiliki tafsir mati, yang dengan kata lain persoalan-persoalan tersebut tidak dapat langsung terpecahkan dengan tanpa melahirkan tafsir-tafsir yang beragam sebagaimana pada zaman Rasulullah. Sejak semula, setelah Rasul wafat, perselisihan itu sudah mulai meruncing. Tepatnya, sesudah kekuasaan tasyri' dikendalikan oleh para sahabat, perselisihan itu timbul dan tidak mungkin lagi dihindarkan.
A. Pengertian Konflik Perspektif

Pengertian konflik secara menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Dan yang dimaksud persektif di sini sebagai mana yang tertera dalam kamus yang sama adalah sudut pandangan, pandangan
Bagaimanapun harus diakui bahwa dakwah akan lebih efektif jika melibatkan kekuasaan atau pula penguasa turut berdakwah, karena dalam Islam tugas penguasa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Menjaga dan memelihara agama Isllam dari upaya penyelewengan meupun pemutarbalikan. Dan menyampaikan agama ini kepada masyarakat sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia tanpa ada penyimpangan, penambahan atau pengurangan. Menginngat sabda Rasulullah saw
2. Penguasa muslim juga berkewajiban menata dunia ini sesuai dengan aturan-aturan agama. Artinya berupaya menata kehidupan dunia dan merujudkan kemaslahatan seluruh rakyat sesuai dengan kaidah-kaidah dan dasar-dasar ajaran Islam.
3. Seorang pengguasa muslim juga berkewajiban menciptakan keamanan dan ketenangan masyarakat.
4. Penguasa muslim juga berkewajiban menciptakan sarana-sarana yang diperlukan masyarakat seperti sarana industri, pendidikan dan lain-lain, serta menciptakan lapangan kerja.
5. Kewjiban lain bagi penguasa muslim adalah mengoptimalkan pemanfaatan harta Negara dan berupaya mengarahkannya untuk merealisasikan kemakmuran dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat.

B. Faktor-faktor Penyebab Konflik Perspektif

Faktor utama penyebab konflik perspektif di kalangan umat Islam jika ditinjau dari aspek intern umat sendiri yang paling mendominasi adalah faktor panatisme dan tidak adanya penghargaan atas perspektif-perpektif orang lain.

1. Panatisme dalam Berpendapat; Sebenarnya panatisme terhadap sesuatu itu baik asal tidak kemudian merasa paling benar sendiri dan tidak mau menghargai pendapat orang lain.
2. Tidak Mau Menghargai Pendapat Orang Lain; Faktor ke dua ini biasanya yang paling rentan terhadap perselisihan yang dapat meruncing dan mengarah pada konflik.

C. Panatisme dan Konflik Perspektif dalam Islam

Sudah merupakan hal yang wajar jika setiap manusia memliki suatu panatisme terhadap sesuatu, baik itu yang menyangkut masalah gaya hidup, cara berinteraksi dengan sesame manusia, jalan hidup dan juga dalam hal beragama. Kenyataan yang ada dalam kehidupan ternyata panatisme bukan saja terjadi dalam kepemlikan satu agama tetapi juga di dalam kehidupan beragama itu sendiri. Dalam satu agama-pun terjadi banyak perselisihan yang diakibatkan oleh sikap panatisme dari para penganut agama itu sendiri. dalam hal ini sebenarnya satu sama lain tetap dalam naungan agama yang sama, namun dalam hal-hal tertentu dari agama yang sama ada perbedaan-perbedaan yang ternya sangat sukar dan bahkan sangat mungkin untuk tidak dapat disatukan persepsi dari masing-masing penganut itu sendiri.
Jika menengok terhadap panatisme-panatisme penganut di dalam Islam sebenarnya tidak jauh dari hal-hal yang sifatnya furu'iyah sebagaimana yang telah disebutkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Jika dalam hal-hal yang bersifat fundamental tidak ada perbedaan perspektif yang terjadi pada para penganut umat Islam. Dalam menyikapi panatisme dalam beribadah atau yang lainnya, selayaknya seorang dai dalam menyikapinya ditengah-tengah umat tersebut paling tidak dapat mempertimbangkan pendapat berikut ini:
Di antara yang dikatakan Imam Malik kepada Khalifah Al-Manshur, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu 'Asakir adalah, "Jangan engkau lakukan ini, sebab umat memiliki beragam pendapat, mereka mendengar banyak hadits dan riwayat, dan masing-masing kaum dari mereka mengambil pemahaman yang telah lebih dulu mereka terima dari pada munculnya perbedaan pendapat dan semisalnya, lalu mereka mengamalkannya dan sudah terbiasa dengannya. Sesungguhnya, mengubah sesuatu yang telah mereka yakini itu persoalan besar. Karenanya biarkanlah umat dengan apa yang telah mereka amalkan, dan biarkanlah mengamalkan sesuatu yang sudah menjadi pilihan penduduk tiap daerah untuk diri mereka sendiri."

D. Taklid dan Konflik

Menurut KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, sebagai mana tertera dalam buku editan Saifullah Ma'shum bahwa bagi umat Islam yang tidak mampu berijtihad, silahkan bertaklid. Jika difahami ungkapan ini sebenarnya menuntun kepada umat, agar bagi mereka yang berada pada posisi awam dalam beragama tidak ada hak untuk tidak bertaklid kepada pendapat para ulama yang tentu lebih luas dalam pengetahuan agama mereka.
Selanjutnya sebenaranya jika yang awam bertaklid dan yang alim berijtihad, tentu tidak perlu ada sikap saling menyalahkan. Karena yang bertaklid dipersilahkan untuk mengikuti yang mereka anggap setuju untuk mengikutinya dan yang berijtihad tentu sesuai denga kedalaman pengetahuannya agar berijtihad dengan keluasan pengetahuannya tersebut dengan selalu memohon petunjuk yang kuasa.

V. KONSEP PERSATUAN DALAM ISLAM

Para ahli dakwah menyebutkan bahwa masyarakat muslim akan terbina dengan baik, manakala ditopang oleh dua tiang utamanya, yaitu akidan dan ukhuah. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah umat yang selalu penting untuk diperbincangkan dan direnungkan aplikasi dan penerapannya ialah masalah persoudaraan dalam Islam. Karena masalah ini amat besar maknanya, cakupan dan dampaknya bagi umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya, sementara untuk mewujudkan persatuan itu sendiri masih teramat jauh.
Mungkinkah memang sudah menjadi kehendak yang kuasa bahwa perwujudan persatuan yang ideal dalam Islam tidak akan pernah terwujud, sehingga yang demikian itu justru menunjukkan betapa maha sempurnanya Allah subhanahu wata'ala. Karena pada dasarnya apapun yang diciptakan oleh sang Kholik memang tidak ada yang dapat disebut laksana kesempurnaan sang pencipta itu sendiri.

A. Berpegang Teguh pada Ajaran Allah

Kunci dari pembinaan persatuan umat sebenarnya sangat jelas tertera dalam Al-Qur'an sebagaimana tertera dalam surat Ali 'Imran sebagai berikut:
وَ اعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لَا تََفَرَّقُوْا وَ اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءَ فَأَلََّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواَنًًًا.
"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, maka kamu menjadi bersaudara karena nikmat Allah….." (Ali Imran:103)

Dalam tafsir Jalalain kata "habl" diinterpretasikan sebagai "addiin"/agama, sementara menurut Ibnu Katsir, kata "habl" diinterpretasikan sebagai Al-Qur'an. Selanjutnya berdasarkan ayat di atas, tampak bahwa nikmat Allah berupa persaudaraan karena iman hanya akan diberikan ketika manusia berpegang teguh kepada Al-Qur'an ataupun agama Allah.

B. Memahami Ajaran Islam Secara Luas dan Komprehensip

Konsep yang amat popular dalam hal ini adalah "Masuklah ke-dalam Islam secara keseluruhan". Persoalannya siapa yang mampu menjalani ajaran Islam secara menyeluruh, ke dalam sendi-sendi ajaran Islam. Bagaimana umat dapat memahami Islam secara keseluruhan dan mendalam jika tidak dibimbing dan diarahkan oleh ulama sebagai pewaris para nabi dan rasul. Dalam hal ini lagi-lagi dai-lah yang memiliki peran yang amat sangat strategis, membimbing umat dan mengarahkan dalam menjalani syariat Islam, sehingga mengerti Islam tidak hanya dengan asumtif, yang memandang sempit mengenai ajaran mulia ini.
Adapun kaitannya dengan pembinaan ukhuwah Islamiyah sesama umat dalam rangka membina dan memelihara persatuan dan kesatuan umat adalah bahwa ketika umat Islam secara mayoritas memahami betapa luasnya ajaran suci Allah, maka mereka tidak akan disibukkan dengan menyalahkan orang lain dalam keluasan perspektif mereka.


VII. PENUTUP

Sebagai penutup kiranya refleksi dari paparan di atas yang merupakan konsep dari pemahaman dai dan peranannya dalam turut sertanya memelihara kesatuan dan persatuan umat ditinjau dari perspektif A-Qur'an, Al-Hadits, Ulama, dan sosial adalah sebagai berikut:

1. Dai adalah seorang yang diberikan amanah ilmu pengetahuan agama Islam yang luas dan mendalam oleh Allah dan memiliki komitmen yang tinggi untuk terus menyerukan agama Allah dengan disertai suri tauladan agamis yang Islami.
2. Adapun peranan dai dalam keikut-sertaannya memlihara persaudaraan, persatuan dan kesatuan umat Islam adalah dengan terus menyerukan saling menghargai sesama umat Islam baik yang bersifat perspektif atau norma agama Islam yang aplikatif, juga dengan keteladanannya dalam memberikan contoh sikap/perilaku di tengah-tengah kehidupan sosial yang homogen baik fisik maupun corak pikir.



DAFTAR BACAAN

Al-Ustadz Musthafa Mansyur, TELADAN Di Medan Dakwah, Intermedia, Solo, 2001
Asywadi Syukur, Sejarah Dakwah Islam, Bina Ilmu, Surabaya, cet. 1, 1982
Atabik Ali, A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Multi Kaeya Grafika, Yogyakarta, 1998
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989
Didin Hafidhuddin, DAKWAH AKTUAL, Gema Insani, Jakarta, 1998
Fazlur Rahman, Islam, hal. 167, Pustaka, Jakarta, 1997
Frederick Meyer, A History of Ancient and Medieval Philosophy, American Book Company, 1950
Hamad Hasan Raqith, Meraih Sukses Perjuangan Dai, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Bebabagi aspeknya, UI Press, 1985
Jamil Shaliba, Al-Falsafah Al-‘Arabiyah,Dar al-Kitab al-Lubnani, Beirut, 1973
K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, 1999.
Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Paramadina, Jakarta, 2000
Majid Fakhry, Sejarah Filsfat Islam Sebuah Peta Kronologis, hal, 10-11, Mizan, Jakarta 2002.
Oliver Leamen, Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis, Mizan, Bandung, 2002
Saifullah Ma'shum, KARISMA ULAMA (Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU), Mizan, Bandung, 1998
Shalah Shawi, Prinsip-Prinsip Gerakan Dakwah, Era Intermedia, Solo, 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar