Rabu, 06 Mei 2009

PEMUDA DI KURSI KEPRESIDENAN INDONESIA

PEMUDA DI KURSI KEPRESIDENAN INDONESIA

I. Pendahuluan

Baru-baru ini pusat perhatian dunia tertuju pada suatu peristiwa yang cukup mencengangkan yang merupakan fenomena baru dalam dunia kepresidenan. Orang muda yang tampil menjadi pemimpin sebuah Negara super power yaitu Amerika Serikat (USA) yang dalam sejarahnya belum pernah dipimpin oleh orang yang relatif masih muda dan berkulit hitam.


Wajah baru dalam perhelatan politik dan pemerintahan Negara adikuasa tersebut tak ayal lagi telah menjadi inspirator di Negara-negara di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia yang merupakan sebuah Negara yang cukup diperhitungkan karena merupakan sebuah Negara yang besar, memiliki wilayah yang luas dan berpenduduk dengan jumlah yang besar.
Meskipun pada kenyataannya presiden Amerika yang baru dikukuhkan itu belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan dalam memimpin, namun masyarakat Indonesia telah banyak yang ter-obsesi untuk memunculkan pemimpin-pemimpin muda baik di legislatif maupun di eksekutif. Sebuah pertanyaan yang pertama kali muncul, apakah mereka yang sedang bermain di kancah perpolitikan nasional tergolong pemuda-pemuda Indonesia pada abad ini sudah siap untuk dijadikan figur-figur bangsa yang masih relatif muda, berkembang dan merdeka belum genap satu abad. Di mana masyarakatnya mayoritas berpendidikan masih dalam katergori terbelakang dibanding dengan masyarakat di Negara-negara maju lainnya. Belum lagi dari aspek ekonomi, kesehatan dan lain-lain yang masih jauh tertinggal, mengapa harus orang muda?
Lalu bagaimana sosok pemimpin muda yang mungkin dapat membuat perubahan-perubahan yang signifikan diberbagai lini strategis dalam kehidupan bangsa kita? untuk di Negara Indonesia sudah mulai muncul pemimpin muda yang berkwalifikasi sebagai pemimpin bangsa namun jumlahnya relatif sangat sedikit dibandingkan dengan generasi tua yang berkwalifikasi sebagai pemimpin bangsa. padahal dari aspek kekuatan fisik, mental dan energisitas pemuda jauh lebih jauh lebih kuat dibanding yang sudah tua.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan persoalannya yang amat kompleks tentu membutuhkan seorang pemimpin yang diharapkan dapat membawa bangsa kepada kemajuan terutama peradaban dan ekonomi bukannya pemimpin yang apatis yang menjadikan bangsa ini statis bahkan mundur.
Tulisan ini akan menguraikan tentang prodoktifitas kepemimpinan pemuda, pengaruhnya, dan bagaimana kwalifikasi pemimpin sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia.

II. Produktifitas Pemimpin Muda dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Masyarakat

a. Produktifitas pemimpin muda
Mengapa harus orang muda yang menjadi pemimpin bangsa? Jawabannya adalah bahwa produktifitas seseorang untuk menjadi pemimpin yaitu apabila ia telah mencapai usia dewasa muda (usia antara 20-40 tahun), di mana pada taraf ini menyebabkan dewasa muda mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas abstarks, logis dan rasional.(Turner dan Helmes dalam Agus Dariyo, 2004:5) masa tersebut sangat relevan untuk memikirkan sekaligus memecahkan persoalan-persoalan bangsa amat kompleks dan beragam dengan penuh tanggung jawab. Pada masa dewasa muda selain seseorang berada pada puncak intelektualnya dari apek fisik ia juga dalam keadaan kekuatan (strength), energi (energi), dan ketekunan (endurance) yang prima (Agus Dariyo, 2004: 6).

b. Pengaruh Pemimpin muda terhadap kehidupan bangsa
Dari perspektif di atas dapat diambil suatu sintesa yang menyatakan bahwa jika seorang pemimpin merupakan orang yang masih muda maka kemungkinan secara intern pemimpin tersebut paling tidak secara fisik memiliki kekuatan yang prima dalam masa pemerintahannya dan secara mental dan intelektual-pun akan dapat tercurah lebih maksimal untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dan dalam mengatasi berbagai persoalan yang kompleks tanpa ganjalan psikis maupun mental.

II. Kwalifikasi Pemimpin Bangsa Ideal

a. Berkepribadian
Di manapun dan kapanpun seorang pemimpin harus dilengkapi dengan kepribadian yang baik yang merupakan prasyarat umum baik material maupun spiritual secara umum dapat disebutkan bentuk kepribadian tersebut adalah kehidupan yang mapan (sandang dan pangan), bermoral, adil, bijak, memiliki wawasan yang luas, kedalaman intelektual, etos kerja yang tinggi dan kemampuan managemen yang baik.

b. Visioner

Sebuah keniscayaan bahwa seorang pemimpin harapan bangsa adalah pemimpin yang visioner, yaitu pemimpin yang mempunyai wawasan ke depan dan akan melakukan banyak perubahan-perubahan kondisi kehidupan sosial bangsa kearah yang lebih baik di berbagai aspeknya. Ketertinggalan di banyak lini kehidupan social bangsa satu-persatu harus diperbaiki demi mengejar ketertinggalannya.

c. Memiliki otoritas politik

Untuk menjalankan roda pemerintahan yang solid seorang pemimpin harus mampu mensinergikan seluruh komponen yang ada dalam struktur pemerintahan agar roda pemerintahan tersebut dapat berjalan solid dan sinergis sebagaimana yang diharapkan. Soliditas dan sinergisitas sebuah struktur pemerintahan ditentukan oleh kondusivitas perpolitikan di sebuah pemerintahan. Oleh karena itu stabilisasi politik menjadi sebuah keniscayaan yang amat urgen kemudian siapa yang yang dapat menstabilkan perpolitikan dalam sebuah struktur pemerintahan? Presiden dengan otoritasnya yang dapat mengkondisikan agar stabilisasi politik tercapai dan dapat menjalankan roda pemerintahan dalam struktur yang solid dan sinergis, karena otoritas dalam kepemimpinan merupakan persyaratan dalam melegitimasi kekuasaan politik (Syaifuddin, 2005: 97). Maka untuk memperkokoh sebuah bangunan politik seorang presiden harus mempunyai kekuatan otoritas yang penuh dan agar otoritas seorang pemimpin sebuah Negara dapat terwujud apabila ia memiliki mesin politik yang kuat dan kokoh dalam struktur besar, dengan kekuatan mesin politiknya tersebut ia dapat membentuk sebuah struktur pemerintahan sendiri yang dapat berjalan powerfull di seluruh lini pemerintahan.

d. Demokratis
Adapun kepemimpinan yang demokratis akan merupakan persyaratan untuk mendapatkan dukungan penuh dari rakyat yang dipimpinya, tanpa demokrasi suatu rezim-sekuat apapun-sulit untuk memperoleh legitimasi dari rakyat, bila ini terjadi maka sebuah Negara tak akan mampu menggerakkan roda pemerintahannya. (Zainuddin, 2002: 74). Jika otoritas sebuah kepemimpinan berfungsi untuk mensolidkan dan mensinergikan struktur pemerintahan, maka demokrasi berfungsi untuk mendapatkan legitimasi rakyat, ke dua-nya sama-sama penting karena kedua corak kepemimpinan tersebut harus sinergis dengan satu sasaran penting untuk menjalankan roda pemerintahan dalam satu Negara. Paling tidak demokrasi di sini dimaknai sebagai suatu bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan yang penting secara langsung maupun tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.(Sidney Hook dalam Zainuddin, 2002: 74)

III. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan, yaitu bahwa seorang pemimpin terlebih presiden dari suatu Negara layaknya adalah orang muda yang memiliki kwalifikasi sebagai seorang pimpinan sebuah negara. Persoalan yang muncul saat ini khususnya di Negara Indonesia adalah, adakah pemuda yang memiliki kwalifikasi sebagai pemimpin bangsa kita? Atau adakah orang yang memiliki kwalifikasi sebagai pemimpin bangsa dan termasuk orang-orang muda? Kemudian mana yang diutamakan jika hanya ada salah satu dari kriteria tersebut dari sekian banyak pemimpin yang kita miliki?
Kwalifikasi pemimpin Negara yang seharusnya diutamakan, karena bagaimanapun yang utama dan pertama adalah berjalannya roda pemerintahan suatu Negara agar Negara tersebut tetap berdaulat di mata dunia. Jikalau ada pemimpin muda yang memiliki kwalifikasi pemimpin suatu Negara jelas lebih utama agar persoalan-persoalan bangsa segera teratasi, dan revolusi kearah yang lebih baik, mandiri dan maju, di sebuah Negara berkembang seperti Indonesia segera tercapai.

REFERENSI
Dariyo, Agus.2004. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta. PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Syaifuddin, Helmy.2005.”Islam dan Negara: Otoritas dan Kekuasaan dalam Pemikiran Islam”. Vol. 6. Nomor 1: 97
Zainuddin, M.2002. “Demokrasi Islam (Telaah Implementasi Demokrasi di Negara Islam)”. Vol. 4. Nomor 2: 74

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar