Rabu, 23 Desember 2009

MEMBUMIKAN BAHASA ARAB DI INDONESIA (Peluang dan Tantangan)

Oleh: J. Sutarjo

PENDAHULUAN

Istilah pembumian dalam dunia akademis memang belum dikenal luas, kecuali merujuk pada istilah yang dipopulerkan oleh beberapa tokoh muslim, seperti Quraish Shihab melalui bukunya Membumikan Al Qur’an dan Syafi’i Ma’arif dengan bukunya Membumikan Islam berdasarkan dua buku tersebut dapat difahami bahwa istilah ini tiada lain adalah “menyosialisasikan”.

Jika istilah pembumian sebelumnya digunan untuk al Qur’an dan Islam, maka dalam tulisan ini kata tersebut digunakan dalam nuansa yang berbeda yaitu bahasa Arab. Namun dalam konteks yang sama yaitu menyosialisasikan bahasa Arab khususnya di Indonesia.
Indonesia merupakan sebuah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sudah barang tentu tidak asing dengan bahasa Arab paling tidak menggunakannya hanya ketika melaksanakan ibadah shalat dan ketika berdoa. Bahasa Arab diajarkan mulai Sekolah Dasar yang dalam hal ini di Madrasah Ibtidaiyah sampai ke Perguruan Tinggi seperti IAIN, STAIN, UIN dan yang lainnya. Selain bahasa Arab, bahasa asing yang sangat popular di Indonesia adalah bahasa Inggris. Dalam perkembangannya bahasa Inggris justru menjadi lebih populer dibandingkan bahasa Arab.
Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing (foreign language) di Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-2 setelah bahasa Inggris dilihat dari pengguna, akan tetapi sebenarnya bahasa Arab justru jauh lebih dahulu dikenal orang Indonesia karena bahasa Arab masuk ke nusantara bersamaan dengan masuknya agama Islam di wilayah tersebut. Ditinjau dari sejarah, bahasa Arab merambah bumi pertiwi bersamaan dengan masuknya agama Islam. Para pedagang dari Gujarat memperkenalkan ajaran Islam pada saat itu pula bahasa Arab diajarkan kendatipun baru sebagai bahasa ibadah.
Seterusnya bahasa Arab diajarkan untuk memahami al Qur’an dan Hadits, baru pada akhir abad ke-19 bahasa Arab mengalami tranformasi besar-besaran dalam metode pembelajaran terutama dari aspek tujuannya, jika sebelumnya pembelajaran diarahkan agar siswa dapat memahami teks-teks berbahasa Arab “pasive understanding", paradigma pembelajaran bahasa Arab sejak akhir dekade 90-an sampai saat ini menyatakan bahwa "bahasa adalah ucapan", ditunjukkan dengan materi pelajaran yang setidaknya bersumber dari buku-buku pelajaran ala buku An-Nasyi'in, dengan sarana yang berupa asrama yang memungkinkan untuk mempraktekkan/berlatih manggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. bahasa Arab mulai dituturkan di antara murid-murid pondok pesantren dan siswa-siswa yang tinggal di asram-asrama sekolah.
Dari aspek metode pambelajaran, sudah banyak yang menggunakan communicative approach yang menekankan pada kemampuan berbahasa secara komunikatif dan tidak terlalu banyak memperhatikan qawaid sebagai salah satu komponen dalam linguistik Arab yang sebelum merupakan paradigma pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Saat ini pembelajaran qawaid hanya merupakan salah satu metode dari metode-metode dalam pembelajaran bahasa Arab.
Memang harus diakui bahwa dari aspek metodologis, pembelajaran bahasa Arab di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan denga bahasa asing lainnya khususnya bahasa Inggris yang cenderung dari hari ke hari mengalami pembaharuan di berbagai aspek yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa tersebut. Khususnya di Indonesia baru pada akhir dekade 90-an pembelajaran bahasa Arab mulai mengalami transformasi sampai saat ini terus berkembang, banyak buku-buku baru yang bermunculan yang membahas/mengkaji bahasa Arab dari aspek pembelajarannya.
Sementara jika ditinjau dari popularitas bahasa Arab di tingkat dunia, Ghazzawi mengatakan bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara. sedangkan menurut menurut Khalid dalam Lubis dalam Wahyuningsih bahasa Arab sebagai salah satu bahasa utama di dunia (major word language) saat ini menjadi penuturan lebih dari satu milyar umat Islam di seluruh dunia yang hampir 22% dari jumlah penduduk dunia ini.
Dari data di atas dapat difahami bahwa penutur asli bahasa Arab mencapai lebih dari dua ratus juta umat manusia, sedangkan secara keseluruhan penutur bahasa Arab dari umat Islam sudah mencapai lebih dari satu milyar. Sebagai bahasa regional, bahasa Arab digunakan di Afrika Utara, jazirah Arab, Siria, Lebanon, Yordania, dan Irak. Selain di wilayah tersebut bahasa Arab juga digunakan oleh kaum Arab di Israel, serta di beberapa wilayah sekitar gurun sahara di Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta di (bekas wilayah) Uni Soviet wilayah Asia Tengah.
Bahasa ini menjadi bahasa resmi di beberapa Negara di Asia khususnya kawasan timur tengah menjadi bahasa pertama, sudah merupakan suatu kewajaran karena bahasa tersebut merupakan bahasa ibu di Negara-negara tersebut. Sebut saja seperti Arab Saudi, Mesir, Syiria, Abu Dabi dan lain-lain. Ada sebuah Negara yang mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama yaitu Sudan, sebelumnya Negara tersebut tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, namun bangsa tersebut mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama (bahasa resmi) yang digunakan oleh masyarakat Negara tersebut.
Di Indonesia sebenarnya bahasa Arab memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi bahasa asing yang popular dan paling banyak dituturkan, namun saat ini harus diakui bahwa bahasa Inggris yang nota bene-nya sama dengan bahasa Arab, sama-sama bahasa asing, namun bahasa Inggris mampu menggeser popularitas bahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan bahasa Inggris menjadi sangat popular; di antaranya adalah globalisasion era, yang digawangi oleh sector academic field, teknologi dan ekonomi.Bahasa Inggris banyak digunakan dalam dunia akademik, teknologi dan ekonomi. Tidak ada satupun negara yang luput dari tiga sektor kehidupan tersebut.
Bukan tidak ada harapan bagi bahasa Arab untuk dapat menandingi kepopuleran bahasa Inggris. Satu hal yang perlu difahami secara lebih dalam dan bijak, bahwa secara naluri bangsa Indonesia sangat membutuhkan bahasa Arab. Dalam konteks dasar (basic contect), seluruh umat Islam yang merupakan umat mayoritas beribadah dengan menggunakan media bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam konteks pemahaman (understanding contect), bahasa Arab merupakan piranti dalam memahami agama Islam secara holistik sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan, dan dapat menjadi bangsa yang bermartabat.
Sebelum dekade 90-an bahasa Arab dikalangan siswa dianggap sebagai ”momok”, yaitu sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimengerti karena kesan mempelajari bahasa Arab adalah amat sulit, mulai dari tulisan yang sangat berbeda dengan bahasa alpabet bahasa Indonesia. Sementara tulisan bahasa Inggris sama dengan alpabet Indonesia, belum lagi berkaitan dengan fonem yang banyak tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Hal itu tidak begitu signifikan berpengaruhnya, jika dibanding dengan keinginan siswa mempelajari bahasa Inggris karena merupakan bahasa teknologi dan merupakan bahasa asing yang selalu menjadi pra-syarat dalam mendapatkan pekerjaan atau peluang kerja.
Pandangan yang bersifat materialistis sebenarnya yang menjadikan bahasa Arab sebagai momok untuk dipelajari. Tidak ada bahasa manusia yang sulit untuk dipelajari dibandingkan dengan bahasa binatang. Sudah lama bangsa Indonesia tidak menyadari betapa pentingnya bahasa Arab, sehingga sampai saat ini belum berani menetapkan bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Jika saja, bahasa Arab diujikan secara nasional sudah barang tentu siswa akan termotifasi untuk mempelajari dan menguasai bahasa tersebut.
Mendewakan teknologi dan pengetahuan barat telah membutakan bangsa dari pentingnya bahasa Arab yang telah dipilih Allah SWT sebagai bahasa firman-Nya. Bukankan seharusnya disadari bahwa bangsa yang kuat dan bermartabat apabila masih terjaga moral dan jati dirinya? Seharusnya difahami bahwa sumber jati diri dan moral yang takkan pernah punah adalah agama.
Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam yang kemudian secara otomatis selalu dibaca dan berusaha difahami oleh umat yang meyakini kebenaran kitab suci tersebut. Dalam kenyataanya, ada berapa orang yang dapat membaca al Qur’an dengan baik, ada berapa orang yang mampu membaca dengan baik dan memahaminya, dan selanjut berapa orang yang mengaplikasikan dalam kehidupannya.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan besar adalah; mungkinkan bahasa Arab dibumikan di Indonesia? Apa yang menjadi peluang untuk pembumian bahasa Arab di Indonesia? Dan apa saja yang menjadi tantangan pembumian bahasa Arab di Indonesia?
Jika ditilik dari perspektif psikologi bahasa mengenai language equisition, bahasa dapat dipelajari melalui dua jembatan; pertama, melalui tipe pembelajaran naturalistik, pembelajaran di lingkungan masyarakat. Kedua, melalui tipe pembelajaran formal, pembelajaran di dalam kelas. Peluang untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia dapat melalui pembelajaran bahasa Arab secara Alami tentu sulit bagi bangsa yang memiliki bahasa ibu selain Arab, walaupun ada penduduk yang berasal dari Arab namun jumlah amat sedikit. Kemungkinan melalui pembelajaran formal sebagaimana di pondok-pondok pesantren, madrasah-madrasah dan PTAI.

PELUANG
Pemerolehan bahasa (language equisition) dapat melalui proses yang bersifat natural atau melalui proses yang bersifat rekayasa. Ellis dalam Abdul Chaer menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa yaitu naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Di Indonesia penduduk berkebangsaan Arab amatlah minim jika ada-pun mereka sudah berbahasa Indonesia, sehingga pembelajaran bahasa Arab naturalistik tidak mungkin dilakukan. Yang mungkin dilakukan adalah pembelajaran formal yaitu belajar bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan lain yang menyelenggarakan pendidikan bahasa Arab.
Bagi negara seperti Indonesia peluang yang paling memungkinkan untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia adalah melalui pendidikan, paling tidak ada tiga komponen besar untuk mengarahkan pendidikan sebagai media suksesi pembumian bahasa Arab, yaitu; adanya lembaga pendidikan yang memfasilitasi pendidikan bahasa Arab, sumber daya manusia yang profesional, dan kebijakan politik pemerintah.

1. Pondok Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam
Dalam kancah pendidikan di Indonesia, pendidikan Islam merupaka fenomena tersendiri yang memiliki andil yang amat signifikan dalam rangka memelihara kelangsungan kehidupan bangsa yang bermartabat. Moral bangsa dapat lestarikan saat ini hanya melalui kelestarian dan terus mengembangkan pendidikan agama sebagai perimbangan era globalisasi yang dengan gencarnya tak dapat terbendung lagi, dunia terasa semakin kecil. Akses antar negara di seluruh dunia dengan mudah dan relatif sangat cepat melalui jaringan informasi dan transportasi yang kian canggih.
Islam di Indonesia akan terus lestari manakala pendidikan Isalm itu lestari. Sebagaimana dikatakan oleh Zainal Abidin bahwa Pendidikan Islam merupakan basis penyangga kontinuitas ajaran Islam sepanjang sejarah kemunculan agama Islam. Merupakan sesuatu yang menarik jika dicermati bahwa dari ribuan pondok pesantren dan madrasah di tambah lagi dengan perguruan tinggi Islam negeri dan swasta yang jumlahnya mencapai ratusan semuanya tidak lepas dengan kegiatan pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Arab yang merupakan bagian integral dalam Islam. Berdasarkan data Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Departemen Agama RI Tahun 2005 (dalam Kuryani), di Indonesia terdapat sejumlah 14.798 pondok pesantren.

2. Cendikiawan Muslim
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi akademis yang secara umum mungkin perlu banyak pembenahan di berbagai aspek, namun tanpa menafikan bahwa sebenarnya di Indonesia dari zaman pra-kemerdekaan telah memilki banyak ulama yang secara keilmuan memiliki standar internasional di kalangan Islam, sebut saja seperti ulama yang tergabung dalam Wali Songo, Syeh Bantani, Hamka dan banyak lagi lainnya. Dari masa ke masa semakin banyak ulama (cendekiawan muslim) yang lahir bagaikan jamur di musim hujan. Di antara mereka adalah putra-putra terbaik bangsa yang telah memiliki kesempatan belajar di Timur Tengah. Sementara sebagian yang lain adalah lulusan domestik.
Bagi para cendikia muslim lulusan Timur Tengah sudah pasti menguasai bahasa Arab baik pasif maupun aktif. Hal tersebut jelas sangat berpitensi mengajarkan dan mensosialisasikan bahasa ibadah umat Islam tersebut. Apabila jika peran lulusan Timur Tengah itu dioptimalkan maka pembumian bahasa Arab di Indonesia tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Karena pengiriman mahasiswa untuk belajar di luar negeri khususnya Timur Tengah sudah berjalan sejak lama. Sebut saja lulusan MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) gagasan Menteri Agama Munawir Sazali (sekitar tahun 1990-an) telah dikirim ke Mesir dengan jumlah puluhan per-tahunnya, belum ditambah program-program lain melalui pondok pesantren dan Madrasah Aliyah.

3. Tenaga Pengajar Penutur Asli Bahasa Arab (Native Speaker)
Suatu yang amat menggembirakan dalam dunia pembelajaran bahasa Arab karena saat ini, karena sudah banyak tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Islam (PTAI) yang didatangkan langsung dari negara-negara Arab, seperti Saudi, Mesir, Sudan, Maroko dan lainnya untuk menjadi tenaga pengajar dalam kajian Islam maupun kajian bahasa Arab. Para ulama tersebut tidak hanya di perguruan tinggi, akan tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan lain seperti LPIA (Lembaga Pendidikan Indonesia Arab), dan pondok-pondok pesantren.
Di perguruan tinggi sekelas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Malang dan Universitas Negeri Umum seperti UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UNM (Universitas Negeri Malang) dan banyak lagi lainnya yang beberapa di antara tenaga pengajar (dosen) didatangkan langsung dari negara-negara di Timut Tengah. Dalam aktivitas pembelajaran mereka berkomunikasi dengan bahasa Arab.

4. Kebijakan Politik Pemerintah
Satu-satunya negara yang berada di luar jazirah Arab yang dapat menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa nasional adalah negara Sudan, bahasa Arab telah menjadi alat komunikasi formal. Dari aspek sosial Indonesia memiliki penduduk yang mayoritas umat Islam, sebuah potensi yang amat besar untuk mendudukkan bahasa Arab sebagai bahasa asing yang wajib dipelajari dan dijadikan piranti dalam mengkaji Islam lebih comprehensif
dan mendetal.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana kita dapat membentuk tradisi keilmuan bahasa Arab yang dinamis, termasuk tradisi melakukan penelitian, dan upaya serius dari pemerintah (Depag maupun Diknas) untuk lebih peduli dan berkomitmen untuk memayungi kebijakan-kebijakan tentang pendidikan bahasa Arab di Indonesia yang lebih menguatkan posisi tawar bahasa Arab. Menarik ditegaskan, bahwa pemerintah Malaysia di bawah Perdana Menteri Abdullah Badawi menerbitkan kebijakan berupa pewajiban bagi semua lembaga pendidikan (Islam, Kristen, Budha, Konghucu, dsb.) untuk mengajarkan bahasa Arab pada tingkat dasar dan menengah, karena pemerintah menghendaki para lulusan lembaga pendidikannya itu mempunyai daya saing dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat global. Selain itu, penggunaan bahasa Arab pada bandara internasional Kuala Lumpur sebagai salah satu media informasi (di samping bahasa Inggris, Mandarin, dan Melayu), ternyata banyak mengundang mengundang minat wisatawan dan investori dari Timur Tengah, di samping membuka lapangan kerja bagi lulusan pendidikan bahasa Arab.

TANTANGAN

Menurut Abdul Wahab di antara tantangan prospek bahasa Arab dalam dunia pendidikan adalah; globalisasi, kolonialisasi barat, derasnya pendangkalan gelombang akidah, agenda neo-kolonialisasi globalisme, upaya penggantian huruf Arab dengan latin, dan disorientasi pendidikan bahasa Arab di lembaga pendidikan di Indonesia. adapun secara umum tantangan pembumian bahasa Arab di Indonesia adalah; Era globalisasi, perkembangan sain dan teknologi, dan rasa puas terhadap transliterasi dan penterjemahan.

1. Era Globalisasi
Globalisasi diberbagai aspek kehidupan menempatkan bahasa sebagai poros terdepan di lini-strategis di era global. Sektor ekonomi, teknologi dan budaya merupakan potensi yang amat strategis bagi sosialisi suatu bahasa. Apabila di sektor-sektor itu dapat diduduki oleh bahasa Arab maka tak pelak lagi bahasa Arab akan menjadi bomming di jagat raya ini. Namun apabila yang terjadi jika bahasa lain yang melambari sektor-sektor globalisasi maka yang terjadi adalah sebaliknya, bahasa Arab akan tertinggal pembumiannya di Indonesia maupun di seluruh belahan dunia.
Harus diakui bahwa globalisasi merupakan tantangan zaman di berbagai dimensi kehidupan termasuk juga kelestarian bahasa Arab sebagai bahasa Agama. Jika diruntutkan, globalisasi merupakan jembatan yang amat mapan bagi merambahnya bahasa Inggris ke seluruh penjuru dunia. Bahasa Inggris saat ini memiliki posisi yang amat menguntungkan, banyaknya ilmu pengetahuan barat yang ditulis dalam bahasa Inggris dan tuntunan teknologi yang berbahasa Inggris. Fakta yang ada seakan-akan mempersempit ruang bagi bahasa-bahasa asing lain untuk menjelajahi dunia.
Indonesia dalam hal ini tidak mau ketinggalan, hampir di berbagai sektor kehidupan di negara ini tidak lepas dengan bahasa asing tersebut. Dalam dunia ekonomi bagi yang memiliki kecakapan berbahasa Inggris maka akan mendapatkan kedudukan yang sangat menjanjikan, mereka mungkin akan menjadi menejer, bahkan mungkin direktur atau paling tidak konsultan. Di sebagian perusahaan bonafit bahkan menjadikan kecakapan berbahasa Inggris sebagai prasarat di samping kemampuan mengoperasikan komputer.

2. Perkembangan Sain dan Teknologi
Harus diakui bahwa sain dan teknologi di zaman sekarang ini merupakan tren zaman dengan segala produknya kian mutakhir. Dalam hal ini adalah bahasa yang digunakan dalam simbol perkembangan sain dan teknologi otomatis menjadi tren pula dan secara pasti menyingkirkan bahasa bahasa lain yang tidak dipergunakan dalam membingkai tren sain dan teknologi.
Secara historis dunia keilmuan Islam pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat, yang disebut dengan masa keemasan Islam yang terjadi pada masa Daulah Bani Abbasiyah . Pada masa ini banyak lahir dan tumbuh para pemikir muslim dengan berbagai keilmuan penting yang ditemukannya dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Pada masa ini, ilmu-ilmu yang dikembangkan dan berkembang pada masa itu umumnya dibagi dalam dua bidang, yaitu ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu naqli mencakup ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, dan hukum Islam. Ilmu akli di zaman ini terurai menjadi; falsafah, Ikhwanus Shafa, At Thib, Farmasi dan Kimia, Ilmu falak dan Nujum, Ilmu Riyadhiyat, Ilmu Tarikh, Ilmu Jughrafiah, dan Al Maushu’at . Selain itu, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu falak, ilmu geografi mulai berkembang, disusul kemudian dengan penulisan buku-buku sejarah yang bermanfaat sebagai pelestarian dunia keilmuan Islam dan para tokohnya.
Setelah mengalami kemajuan yang cukup pesat, untuk sekian kali dunia keilmuan Islam mengalami kemuduran, dengan kata lain, dunia Islam "mundur" dengan ketidak berdayaannya dan Barat "maju" dengan segala pemikirannya .
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ketika pengetahuan Islam mengalami kejayaan bahasa Arab menjadi sangat tren sebagai simbol dari pengetahuan Islam, akan tetapi ketika fakta berubah dimana pengetahuan barat merajai dunia maka bahasa orang baratlah kemudian menjadi tren di permukaan bumi ini.

3. Rasa Puas Terhadap Hasil Transliterasi dan Terjemahan
Kian maraknya transliterasi dan terjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia menjadikan para ilmuan bahasa Arab lebih kreatif dalam bidang transliterasi dan penterjemahan. Di sisi lain dampak yang tak terelakkan adalah semakin malasnya masyarakat untuk mempelajari bahasa Arab bahkan dari membaca huruf Arab saja, karena transliterasi sudah tersedia, dan hampir setiap kitab-kitab kilmuan Islam sudah ada terjemahannya. Tentu akan muncul banyak anggapan bahwa belajar bahasa Arab tidak begitu penting karena dengan bahasa Indonesia saja sudah dapat membaca tulisan Arab bahkan mengerti terjemahan al Qur’an, al Hadits dan kitab-kitab lain yang berisiskan kajian tentang Islam.
Semakin banyaknya buku-buku hasil terjemahan alih bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, pada satu sisi memudahkan umat untuk mempelajari pengetahuan agama tanpa harus mengerti bahasa Arab terlebih dahulu. Akan tetapi pada aspek lain tentu untuk mempelajari bahasa Arab lambat laun dianggap tidak begitu penting karena dengan membaca terjemahan saja sudah dianggap cukup untuk mempelajari pengetahuan agama. Walaupun tampak dengan membaca terjemahan saja sudah cukup dalam memahami pengetahuan agama, sebenarnya ada satu kelemahan dalam dunia terjemahan yaitu ketika orang menterjemah cenderung subyektif sebagaimana dikatakan oleh H.G. de Maar bahwa salah satu petunjuk penterjemahan adalah bahwa penterjemah harus setia kepada teks aslinya, seorang penterjemah harus bebas dari subyektifitas apalagi ditumpangi oleh misi-misi tertentu.

SIMPULAN
1. Penduduk negara Indonesia yang moyoritas beragama Islam merupakan potensi yang amat besar dan mengakar yang memiliki prospek untuk membumikan bahasa Arab di Indonesia. Diperkuat lagi dengan lembaga-lembaga pendidikan yang kian hari kian diperhitungkan eksistensinya akan dapat mempercepat proses pembumian bahasa Arab jika saja diperkuat oleh kebijakan politik pemerintad dalam bidang pendidikan khususnya atau pada bidang-bidang yang lain.
2. Tantangan dalam pembumian bahasa Arab di Indonesia saat ini memang sangat berat, dimana masa sekarang adalam zaman globalisasi, teknologi dan kejayaan keilmuan barat. Bahasa Inggris merupakan lawan terkuat bagi pembumian bahasa Arab karena bahasa Inggris sudah menjadi identitas globalisasi, teknologi dan keilmuan barat. Kendatipun demikian, bukan berarti tidak ada harapan bagi bahasa Arab untuk menjadi bahasa asing yang paling banyak dituturkan, karena saat ini perkembangan pendidikan bahasa Arab kian menggembirakan. Banyak buku-buku yang berkaitan dengan metodologi pembelajaran bahasa Arab sudah diterbitkan, transformasi pendekatan metode dari qawaid wa tarjamah ke pendekatan comunikatif telah merubah pembelajaran bahasa Arab menjadi kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Zainal, Tarbawiyah (Media Edukasi, Inovasi, dan Kreasi Pendidikan), STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Edisi Januari 2008, , Vol.5, No.1
Arsyad, Azhar, 2004. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Chaer, Abdul, 2003. PSIKOLINGUISTIK (Kajian Teoritik), Rineka Cipta, Jakarta
Ghazali, Adeng Muchtar, 2005. Pemikiran Islam Kontemporer (Suatu Refleksi Keagamaan yang Dialogis), Pustaka Setia, Bandung,
Hidayat, D, Mnecairkan Kebekuan Komunikasi Dalam Bahasa Arab Lisan, El-Jadid (Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam), Vol. 1, No. 2, Januari 2004, Program Pasca Sarjana UIN Malang.
http://alfi86.multiply.com
Khotijah, TAPIS (jurnal penelitian ilmiah), p3m (Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Vol.09, No.01, Juli 2009
Kuryani, TAPIS (jurnal penelitian ilmiah), p3m (Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Vol.08, No.02, Juli 2009
Madjid, Nurcholish, 1994. Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang, Jakarta
Misbah, Ma'ruf dkk, 1994. Sejarah Kebudayaan Islam, CV Wicaksana Semarang
Mustofa, A, 1997. Filasafat Islam, Pustaka Setia Bandung
Wahyuningsih, Noverita, 2004. MEMADU SAINS DAN AGAMA (Menuju Universitas Islam Masa Depan), Bayu Media Publishing, Malang,
Widyamartaya, A, 2005. Seni Menterjemahkan, Knisius, Yogyakarta

1 komentar:

  1. Bahasa arab adalah salah satu dr 5 bhs resmi internasional. Tentu saja sangat penting untuk dipelajari di samping bhs inggris

    BalasHapus