Rabu, 23 Desember 2009

PARADIGMA PENGUASAAN MEMBACA DALAM BAHASA ARAB LULUSAN PBA (PENDIDIKAN BAHASA ARAB)

OLEH
J. SUTARJO,M.Pd

PENDAHULUAN

Bahasa Arab di Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-2 setelah bahasa Inggris dilihat dari pengguna, akan tetapi sebenarnya bahasa Arab justru jauh lebih dahulu dikenal orang Indonesia karena bahasa Arab masuk ke nusantara bersamaan dengan masuknya agama Islam di wilayah tersebut. Ditinjau dari sejarah, bahasa Arab merambah bumi pertiwi bersamaan dengan masuknya agama Islam. Para pedagang dari Gujarat memperkenalkan ajaran Islam pada saat itu pula bahasa Arab diajarkan kendatipun baru sebagai bahasa ibadah.

Seterusnya bahasa Arab diajarkan untuk memahami al Qur’an dan Hadits, baru pada akhir abad ke-19 bahasa Arab mengalami tranformasi besar-besaran dalam metode pembelajaran terutama dari aspek tujuannya, jika sebelumnya pembelajaran diarahkan agar siswa dapat memahami teks-teks berbahasa Arab “pasive understanding", paradigma pembelajaran bahasa Arab sejak akhir dekade 90-an sampai saat ini menyatakan bahwa "bahasa adalah ucapan", ditunjukkan dengan materi pelajaran yang setidaknya bersumber dari buku-buku pelajaran ala buku An-Nasyi'in, dengan sarana yang berupa asrama yang memungkinkan untuk mempraktekkan/berlatih manggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. bahasa Arab mulai dituturkan di antara murid-murid pondok pesantren dan siswa-siswa yang tinggal di asram-asrama sekolah.
Dari aspek metode pambelajaran, sudah banyak yang menggunakan communicative approach yang menekankan pada kemampuan berbahasa secara komunikatif dan tidak terlalu banyak memperhatikan qawaid sebagai salah satu komponen dalam linguistik Arab yang sebelum merupakan paradigma pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Saat ini pembelajaran qawaid hanya merupakan salah satu metode dari metode-metode dalam pembelajaran bahasa Arab.
Memang harus diakui bahwa dari aspek metodologis, pembelajaran bahasa Arab di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan denga bahasa asing lainnya khususnya bahasa Inggris yang cenderung dari hari ke hari mengalami pembaharuan di berbagai aspek yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa tersebut. Khususnya di Indonesia baru pada akhir dekade 90-an pembelajaran bahasa Arab mulai mengalami transformasi sampai saat ini terus berkembang, banyak buku-buku baru yang bermunculan yang membahas/mengkaji bahasa Arab dari aspek pembelajarannya.
Sementara jika ditinjau dari popularitas bahasa Arab di tingkat dunia, Ghazzawi mengatakan bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara. sedangkan menurut menurut Khalid dalam Lubis dalam Wahyuningsih bahasa Arab sebagai salah satu bahasa utama di dunia (major word language) saat ini menjadi penuturan lebih dari satu milyar umat Islam di seluruh dunia yang hampir 22% dari jumlah penduduk dunia ini.
Dari data di atas dapat difahami bahwa penutur asli bahasa Arab mencapai lebih dari dua ratus juta umat manusia, sedangkan secara keseluruhan penutur bahasa Arab dari umat Islam sudah mencapai lebih dari satu milyar. Sebagai bahasa regional, bahasa Arab digunakan di Afrika Utara, jazirah Arab, Siria, Lebanon, Yordania, dan Irak. Selain di wilayah tersebut bahasa Arab juga digunakan oleh kaum Arab di Israel, serta di beberapa wilayah sekitar gurun sahara di Afrika, Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta di (bekas wilayah) Uni Soviet wilayah Asia Tengah.
Bahasa ini menjadi bahasa resmi di beberapa Negara di Asia khususnya kawasan timur tengah menjadi bahasa pertama, sudah merupakan suatu kewajaran karena bahasa tersebut merupakan bahasa ibu di Negara-negara tersebut. Sebut saja seperti Arab Saudi, Mesir, Syiria, Abu Dabi dan lain-lain. Ada sebuah Negara yang mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama yaitu Sudan, sebelumnya Negara tersebut tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, namun bangsa tersebut mampu menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pertama (bahasa resmi) yang digunakan oleh masyarakat Negara tersebut.
Di Indonesia sebenarnya bahasa Arab memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi bahasa asing yang popular dan paling banyak dituturkan, namun saat ini harus diakui bahwa bahasa Inggris yang nota bene-nya sama dengan bahasa Arab, sama-sama bahasa asing, namun bahasa Inggris mampu menggeser popularitas bahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan bahasa Inggris menjadi sangat popular; di antaranya adalah globalisasion era, yang digawangi oleh sector academic field, teknologi dan ekonomi.Bahasa Inggris banyak digunakan dalam dunia akademik, teknologi dan ekonomi. Tidak ada satupun negara yang luput dari tiga sektor kehidupan tersebut.
Bukan tidak ada harapan bagi bahasa Arab untuk dapat menandingi kepopuleran bahasa Inggris. Satu hal yang perlu difahami secara lebih dalam dan bijak, bahwa secara naluri bangsa Indonesia sangat membutuhkan bahasa Arab. Dalam konteks dasar (basic contect), seluruh umat Islam yang merupakan umat mayoritas beribadah dengan menggunakan media bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam konteks pemahaman (understanding contect), bahasa Arab merupakan piranti dalam memahami agama Islam secara holistik sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan, dan dapat menjadi bangsa yang bermartabat.
Sebelum dekade 90-an bahasa Arab dikalangan siswa dianggap sebagai ”momok”, yaitu sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimengerti karena kesan mempelajari bahasa Arab adalah amat sulit, mulai dari tulisan yang sangat berbeda dengan bahasa alpabet bahasa Indonesia. Sementara tulisan bahasa Inggris sama dengan alpabet Indonesia, belum lagi berkaitan dengan fonem yang banyak tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Hal itu tidak begitu signifikan berpengaruhnya, jika dibanding dengan keinginan siswa mempelajari bahasa Inggris karena merupakan bahasa teknologi dan merupakan bahasa asing yang selalu menjadi pra-syarat dalam mendapatkan pekerjaan atau peluang kerja.
Pandangan yang bersifat materialistis sebenarnya yang menjadikan bahasa Arab sebagai momok untuk dipelajari. Tidak ada bahasa manusia yang sulit untuk dipelajari dibandingkan dengan bahasa binatang. Sudah lama bangsa Indonesia tidak menyadari betapa pentingnya bahasa Arab, sehingga sampai saat ini belum berani menetapkan bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Jika saja, bahasa Arab diujikan secara nasional sudah barang tentu siswa akan termotifasi untuk mempelajari dan menguasai bahasa tersebut.
Mendewakan teknologi dan pengetahuan barat telah membutakan bangsa dari pentingnya bahasa Arab yang telah dipilih Allah SWT sebagai bahasa firman-Nya. Bukankan seharusnya disadari bahwa bangsa yang kuat dan bermartabat apabila masih terjaga moral dan jati dirinya? Seharusnya difahami bahwa sumber jati diri dan moral yang takkan pernah punah adalah agama.
Allah telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam yang kemudian secara otomatis selalu dibaca dan berusaha difahami oleh umat yang meyakini kebenaran kitab suci tersebut. Dalam kenyataanya, ada berapa orang yang dapat membaca al Qur’an dengan baik, ada berapa orang yang mampu membaca dengan baik dan memahaminya, dan selanjutnya berapa orang yang mengaplikasikan dalam kehidupannya.
Membaca sebagai salah satu dari empat kemahiran dalam berbahasa, dalam hal bahasa Arab membaca merupakan piranti untuk memahami al Qur’an dan al Hadits serta kitab-kitab turots lainnya. Untuk melahirkan sarjana-sarjana yang berpotensi memiliki kemampuan membaca yang mapan dalam bahasa Arab adalah tugas PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) khususnya pada program studi PBA (Pendidikan Bahasa Arab). Kendatipun saat ini bukan hanya PTAI saja telah menyelenggarakan program studi PBA. PTAI harus menjadi line sector dalam mengupayakan memproduksi lulusan yang kompeten dalam keterampilan membaca dalam bahasa Arab, karena mereka akan mendidik generasi bangsa dengan ajaran Islam yang komprehensif.
Konsep standar kemampuan membaca dalam bahasa Arab selayaknya diperjelas agar arah pendidikan bahasa Arab memiliki acuan yang komprehensif yang akuntabel. Kemampuan membaca holistik baik yang berkaitan dengan teknis atau membaca yang bersifat pemahaman harus dimiliki oleh setiap lulusan PBA sebagai salah satu skil berbahasa dalam bahasa Arab yang akan membantu dalam memahami kajian-kajian Islam yang tertulis dalam bahasa Arab.

KEMAMPUAN MEMBACA

Hakikat Membaca
Sebelum menetapkan hakikat membaca yang digunakkan sebagai dasar penelitian, perlu dipaparkan mengenai beberapa hakikat membaca yang sangat mempengaruhi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengajaran membaca. Menurut Kolker, membaca merupakan suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakekat membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.
Selain itu, Doglass (dalam Cox) memberikan definisi membaca sebagai suatu proses penciptaan makna terhadap segala sesuatu yang ada dalam lingkungan tempat pembaca mengembangkan suatu kesadaran. Sejalan dengan itu Rosenblatt (dalam Tompkins) berpendapat bahwa membaca merupakan proses transaksional. Proses membaca berdasarkan pendapat ini meliputi langkah-langkah selama pembaca mengkonstruk makna melalui interaksinya dengan teks bacaan. Makna tersebut dihasilkan melalui proses transaksional. Dengan demikian, makna teks bacaan itu tidak semata-mata terdapat dalam teks bacaan atau pembaca saja.
Fredick Mc Donald (dalam Burns) mengatakan bahwa membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi: sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya, aktiivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilam tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu. Syafi'i juga menyatakan bahwa membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, beberapa psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.
Adapun Farris (1993: 304) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
Dengan adanya beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh pembaca untuk membangun makna dari suatu pesan yang disampaikan melalui tulisan. Dalam proses tersebut, pembaca mengintegrasikan antara informasi atau pesan dalam tulisan dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki.

Jenis-jenis Membaca

1. Dari Aspek kegiatannya
Menurut Zainuddin jenis membaca dari aspek kegiatannya ada lima jenis; membaca keras, membaca dalam hati, membaca cepat, membaca rekreatif,dan mebaca analitik. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Membaca Keras; Membaca keras merupakan kegiatan membaca yang menekankan pada ketepatan bunyi, irama, kelancaran, perhatian terhadap tanda baca. Kegiatan membaca seperti ini disebut juga sebagai kegiatan “membaca teknis”.
b. Membaca dalam Hati; Membaca dalam Hati merupakan kegiatan membaca yang bertujuan untuk memperoleh pengertian, baik pokok-pokok maupun rincian-rinciannya. Secara fisik membaca dalam hati harus menghindari vokalisasi, pengulangan membaca, menggunakan telunjuk/petunjuk atau gerakan kepala.
c. Membaca Cepat; Yaitu membaca yang tidak menekankan pada pemahaman rincian-rincian isi bacaan, akan tetapi memahami pokok-pokoknya saja. Membaca ini dapat dilakukan dengan menggerkkan mata dengan pola-pola tertentu.

d. Membaca Rekreatif; Yaitu kegiatan membaca yang bertujuan untuk membina minat dan kecintaan membaca; biasanya bahan bacaab diambil dari cerpen dan novel.
e. Membaca Analitik; Yaitu kegiatan membaca yang bertujuan untuk mencari informasi dari bahan tertulis; menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain, menarik kesimpulan yang tidak tertulis secara eksplisit dalam bacaan.

2. Menurut Bentuknya
Adapun menurut bentuknya, menurut Zainuddin jenis membaca terbagi menjadi dua; membaca intensif dan membaca ekstensif. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Membaca Intensif (Qira’ah Mukatsafah); Yaitu membaca yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan utama dalam membaca dan memperkaya perbendaharaan kata serta menguasai qawaid yang dibutuhkan dalam membaca.
b. Membaca Ekstensif (Qira’ah Muwassa’ah); Yaitu membaca yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan.

3. Membaca Pemahaman
Banyak definisi membaca pemahaman yang disampaikan oleh para ahli. Definisi itu secara umum mempunyai arti yang hampir sama, yaitu memahami informasi secara langsung yang ada dalam teks bacaan itu dan memahami informasi yang tidak secara langsung dalam teks. Pendapat-pendapat yang mendukung definisi itu diantaranya adalah:
Rubin mendefinisikan bahwa membaca pemahaman adalah proses pemikiran yang kompleks untuk membangun sejumlah pengetahuan. Membangun sejumlah pengetahuan itu menurut Nola Banton Smith (dalam Rubin),bisa berupa kemampuan pemahaman literal, interpretatif, kritis, dan kreatif. Hal itu diperkuat oleh Burns bahwa membaca pemahaman terdiri empat tingkatan, yaitu pemahaman literal (literal comprehension), pemahaman interpretatif (interpretative comprehension), pemahaman kritis (critical comprehension) dan pemahaman kreatif (creative comprehension).
Beberapa kemampuan yang ada dalam membaca literal, interpretatif, kritis, dan kreatif dapat diuraikan lebih rinci lagi mulai dari definisi sampai dengan aktivitasnya. Penjelasan tentang definisi dan aktivitasnya tersebut, Syafi’ie (1999: 31) mengatakan bahwa pemahaman literal adalah pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau disebutkan penulis dalam teks bacaan. Pemahaman ini diperoleh dengan memamhami arti kata, kalimat dan paragraf dalam konteks bacaan itu seperti apa adanya. Dalam pemahaman literal ini tidak terjadi pendalaman pemahaman terhadap isi inforasi bacaan. Yang terjadi hanya mengenal dengan mengingat apa yang tertulis dalam bacaan. Untuk membangun pemahaman literal, pembaca dapat menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan, bagaimana, mengapa.
Membaca interpretatif merupakan kegiatan membaca yang berusaha memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bacaan. Kegiatan ini lebih dalam lagi bila dibandingkan dengan membaca literal karena dalam membaca literal pembaca hanya mengenal apa yang tersurat saja, tetapi dalam membaca interpretatif, pembaca ingin juga mengetahui apa yang disampaikan penulis secara tersirat. Menurut Syafi’ie pemahaman interpretatif harus didahului pemahaman literal yang aktivitasnya berupa: menarik kesimpulan, membuat generalisasi, memahami hubungan sebab-akibat, membuat perbandingan-perbandingan, menemukan hubungan baru antara fakta-fakta yang disebutkan dalam bacaan.
Membaca kritis merupakan membaca yang bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu teks bacaan dengan jalan melibatkan diri sebaik-baiknya ke dalam teks bacaan itu. Oleh para ahli membaca kritis ini dipandang sebagai jenis membaca tersendiri sehingga para ahli membuat definisi yang redaksinya berbeda-beda. Menurut Burns membaca kritis adalah mengevaluasi materi tertulis, yakni membandingkan gagasan yang tercakup dalam materi dengan standar yang diketahui dan menarik kesimpulan tentang keakuratan, dan kesesuaian. Pembaca kritis harus bisa menjadi pembaca yang aktif, bertanya, meneliti fakta-fakta, dan menggantungkan penilaian/keputusan sampai ia mempertimbangkan semua materi.
Membaca kreatif merupakan tingkatan membaca pemahaman pada level yang paling tinggi. Pembaca dalam level ini harus berpikir kritis dan harus menggunakan imajinasinya. Dalam membaca kreatif, pembaca memanfaatkan hasil membacanya untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan emosionalnya. Kemampuan itu akan bisa memperkaya pengetahuan-pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan ketajaman daya nalarnya sehingga pembaca bisa menghasilkan gagasan-gagasan baru. Proses membaca kreatif ini menurut Syafi’ie dimulai dari memahami bacaan secara literal kemudian menginterpretasikan dan memberikan reaksinya berupa penilaian terhadap apa yang dikatakan penulis, dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran-pemikiran sendiri untuk membentuk gagasan, wawasan, pendekatan dan pola-pola pikiran baru.

ASPEK-ASPEK YANG MENJADI STANDAR PENGUASAAN MEMBACA DALAM BAHASA ARAB

Sebagaimana bahasa yang lain kemampuan membaca dalam bahasa Arab juga meliputi membaca nyaring (القراءة الصائتة) dan membaca diam (القراءة الصامتة) , yang menarik adalah bahwa dalam bahasa Arab bagi yang mempelajarinya (selain orang Arab) untuk dapat membaca nyaring saja harus mengkaji banyak ilmu yang terkait dengan linguistiknya; yaitu mulai dari fonem (الصوت) dalam kajian fonologi yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi dalam bahasa Arab, dan nahwu (النحو) untuk mengetahui bagaimana memvokalkan huruf-huruf yang tergabung dalam tiap-tiap kata dalam bahasa Arab. Selanjutnya setelah dapat membaca sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar dalam membaca, baru pemahaman teks dapat dipelajari sesuai dengan tujuan dalam membaca pemahaman. Tujuan dalam membaca pemahaman dapat berupa pemahaman literal, pemahaman kritis, pemahaman interpretatif sampai dengan pemahaman kreatif, sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dari hasil membaca pemahaman yang dilakukan.
Hal ini sesuai dengan yang kemukakan oleh Al Naqah bahwa hakikat membaca adalah berkaitan dengan dua aspek; mekanik (ميكانيكيا) dan kognitif (عقليا). Aspek mekanik berkenaan dengan filologi, simbol yang tertulis, pemahaman terhadap kata-kata serta mengucapkannya. Aspek kognitif berkenaan dengan pemahaman makna dan menginterpretasiikannya, menerka pemikiran penulis dan mengkritisinya.
Baik teori yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh dari barat maupun dari Arab sendiri memiliki pemahaman yang koherenI, dimana secara garis besar kegiatan membaca mencakup dua aspek; yaitu aspek mekanik dan kognitif.
Kemampuan membaca dalam berbagai tema; seperti ilmu pengetahuan, sastra, sosial, kebudayaan, teknologi, politik dan lain-lain merupakan lapangan dalam aktivitas membaca. Seseorang yang ingin menguasai berbagai istilah yang mendukung kemampuan pemahaman membaca yang luas harus terlatih memahami berbagai tema kehidupan dalam wujud bacaan. Hal itu dalam upaya mencapai tingkatan tertinggi dalam kemampuan membaca, sebagaimana diungkapkan oleh Grittner dalam Thu’aimah bahwa tingkatan tertinggi dalam kemampuan membaca adalah kemampuan membaca bebas; dimana pada tingkatan ini seorang pembaca hanya dalam rangka meningkatkan penguasaan kosakata dan istilah-istilah khusus dalam topik-topik tertentu. Dalam bahasa Arab-pun kemampuan tersebut dapat diraih dengan mengandalkan latihan-latihan dengan tema-tema tersebut, dengan catatan telah melewati kemampuan memca nyaring (القراءة الصائتة) yang menjadi pondasi dalam memahami teks secara mekanis.

KESIMPULAN
1. Standar kemampuan membaca bagi lulusan PBA (Pendidikan Bahasa Arab) yang bersifat mekanis; harus mencakup kecakapan membaca teks secara fasih dalam pengertian membaca nyaring (القراءة الصائتة); yaitu dari aspek fonem (الصوت),mengerti teks secara mekanis; dari aspek pembentukan kata dan tata bahasa sekaligus implementasinya dalam bacaan nyaring.
2. Standar kemampuan membaca bagi lulusan PBA (Pendidikan Bahasa Arab) yang bersifat komprehensif; harus mencakup kecakapan memahami teks mulai dari pemahaman literal, pemahaman kritis, pemahaman interpretatif, dan pemahaman kreatif. Kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran dan menghasilkan karya-karya ilmiah.
3. Standar kemampuan membaca bagi lulusan PBA (Pendidikan Bahasa Arab) terhadap istilah-istilah; menguasai berbagai istilah dalam berbagai tema dalam kehidupan, seperti ilmu pengetahuan, sosial, politik, teknologi, budaya dan lain-lain serta dapat menghasilkan karya-karya ilmiah sesuai dengan kajian yang ditekuni.

DAFTAR BACAAN

Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet. 2, 2004, hal.1
Kolker, Brenda: 1988. Prosessing Print. Dalam J. Estill Alexander. Teaching Reading, Boston. Scott. Foresman and Company.
Burns, Paul C, Betty D Roe, dan Elinor P. ross. 1996. Teaching reading in Elementary Schools. New Jersey: Houghton Mifflin.
Cox, Carole. 1998. Teaching Language Arts. A student-and response-centered classroom. Boston: Allyn and Bacon.
Farris, Pamela J. 1993. Language Arts: A Process Aproach. Wisconsin: Brown & Benchmark Publishers.
Hidayat, D, Mnecairkan Kebekuan Komunikasi Dalam Bahasa Arab Lisan, El-Jadid (Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam), Vol. 1, No. 2, Januari 2004, Program Pasca Sarjana UIN Malang.
Khotijah, TAPIS (jurnal penelitian ilmiah), p3m (Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, Vol.09, No.01, Juli 2009

Noverita Wahyuningsih,MEMADU SAINS DAN AGAMA (Menuju Universitas Islam Masa Depan), Bayu Media Publishing, Malang, 2004
Radliyah Zaenuddin dkk, Metodologi dan Strategi Alternatif (PEMBELAJARAN BAHASA ARAB), STAIN Cirebon Press, cet-1, 2005
Rubin, Dorothy. 1993. A Practical Aproach to Teaching Reading. Boston: Allyn and Bacon.
Syafi'ie, Imam. 1999. Pengajaran Membaca di Kelas-Kelas awal Sekolah Dasar. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengajaran Bahasa Indonesia pada Fakultas pendidikan Bahasa dan Seni. Disanpaikan pada Sidang Terbuka Senat Unversitas Negeri Malang. Malang, 17 Desember
Tompkins, Gail E. dan Hoskisson, Kenneth. 1991. Language Art: Content and Teaching Strategies. New York: Macmillan Publishing Company.

الناقة، محمود كامل وطعيمة، رشدي أحمد، طريقة تدريس اللغه العربية لغير الناطقين بها, منشوات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم والثقافة إيسيسكو، 2003م، ص.150
طعيمة، رشدي أحمد، تعليم العربية لغير الناطقين بها (مناهجه وأساليبه)، منشورات المنظمة الإسلامية للتربية والعلوم والثقافة، إيسيسكو، 1989م، ص.177



1 komentar:

  1. labbaik ustadz..... memang begitu penting untuk membaca,,, tapi terkadang menumbuhkan semangat membaca sangatlah sulit.....

    BalasHapus