Jumat, 07 Mei 2010

MASIHKAH UN SISWA SMA PERLU DILAKSANAKAN ?

Beberapa waktu lalu, seluruh siswa SMA se-antero negeri Indonesia baru saja mengikuti kegiatan yang amat dinantikan sekaligus dikhawatirkan, yaitu kawah Ujian Nasional (UN). Kegiatan rutin tersebut telah melibatkan banyak pihak untuk mensukseskannya. Mulai dari siswa sendiri sebagai pelaku/peserta ujian, pengawas dari sekolah, pengawas dari perguruan tinggi, dan instansi terkait di bawah naungan DIKNAS atau DEPAG. Orang tua juga pihak yang tidak kalah khawatir terhadap kelulusan putra-putrinya. Berbagai upaya dilakukan demi kesuksesan dalam ujian akhir UN sebagai standar kelulusan siswa SMA.



Fenomena yang nampak ternyata bukan hanya siswa yang merasa khawatir tidak lulus ujian, pihak sekolah-pun mayoritas merasa gamang akan keberhasilan siswa-siswa mereka dalam pertarungan mengerjakan soal-soal. Kekhawatiran tersebut bukan hanya terjadi di sekolah-sekolah di daerah pelosok saja, yang nota-benenya sebagai sekolah yang minim fasilitas dan SDM. Keseriusan pihak sekolah dalam menghadapi UN ditunjukkan dengan penambahan jam belajar (les) siswa kelas 3 di luar jam pelajaran sekolah.

Jika menilik kepada tujuan evaluasi, ujian akhir bagi siswa kelas tiga adalah untuk mengetaui penguasaan pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari atau diajarkan oleh guru di masing-masing sekolah. evaluasi yang dilaksanakan secara nasional tentu rentan akan soal-soal yang kemungkinan belum atau tidak dipelajari di sebagian sekolah-sekolah mungkin karena situasi dan kondisi tertentu materi yang ada dalam kurikulum tidak disampaikan/dipelajari seluruhnya. Kemudian ketika UN dilaksanakan mengacu pada materi-materi pelajaran yang telah ditentukan oleh kurikulum nasional. Hal tersebut tentu menjadikan soal-soal dalam UN tidak memenuhi prinsip komprehensif di mana terjadi overloud pada penyajian soal ujian.

Persoalan kejujuran dalam UN selayaknya dipertimbangkan lebih tajam. Merupakan hal lumrah apabila sebagian sekolah di daerah kota yang fasilitas dan SDMnya telah tercukupi untuk mendukung proses pembelajaran sehingga memungkinkan seluruh materi yang tertera dalam kurikulum nsional dapat diajarkan/dipelajari seluruhnya. Bagaimana dengan sekolah-sekolah di daerah-daerah yang fasilitas maupun SDM amat kurang, ternyata banyak yang berhasil meluluskan siswa-siswanya berdasarkan hasil UN. Jelas sekali kejujuran di sini amat dipertanyakan. Sepandai apapun seorang siswa kalau belum pernah mendengar atau mempelajari suatu materi, maka tidak akan bisa mengerjakan soal.

Mungkin dapat disepakati apabila UN hanya dijadikan alat ukur standar penyerapan materi secara nasional. Sementara untuk menentukan kelulusan siswa, jika hasil UN dijadikan acuan maka dapat dikatakan penetapan kelulusan tersebut tidak obyektif. Pihak sekolah lebih mengerti dan memahami siswa mana yang layak lulus atas dasar penguasaannya terhadap materi pelajaran-pelajaran yang betul-betul telah diajarkan/dipelajari di sekolah yang bersangkutan. Terlebih lagi jika mengacu pada tujuan pendidika untuk menciptakan manusia seutuhnya; dalam arti bukan hanya kemampuan kognitif yang dijadikan standar. Ranah afektif dan psikomotorik tidak boleh diabaikan begitu saja sebagai aspek-aspek penentu keberhasilan sekolah dalam mendidik siswa. Karena dapat dikatakan evaluasi jika memenuhi tiga ranah di atas. Lebih jauh lagi jika pendidikan hanya berorientasikan kemampuan kognitif maka akan melahirkan insane-insan padai yang akhlaknya belum dapat dijamin keluhurannya.

Bagaimana dengan perguruan tinggi merikrut mahasiswa baru?

Setiap perguruan tinggi dapat melaksanakan tes masuk dengan standar masing-masing, dengan persyaratan berkas nilai raport atau nilai standar UN (yang bukan penentu kelulusan siswa). Visi perguruan tinggi harus betul-betul untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mendidik generasi selanjutnya tanpa harus berbangga-bengga dengan input mahasiswa yang memang sudah pandai-pandai. Justru perguruan tinggi seyogyanya memintarkan seluruh mahasiswanya baik yang memilki prestasi atau yang belum berprestasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar