Rabu, 21 Juli 2010

sEni Dalam IslAm

Anda pernah berwisata ke Istana Topkapi? Tak apa, jika belum. Andai sudah, coba perhatikan ornamen yang sangat indah pada dindingdinding bangunan bersejarah di Turki itu. Keindahan yang sama bisa dilihat di Darb-i Imam shrine di Isfahan, Iran, juga di Seljuk Mama Hatum Mausoleum di Tercan, Turki. Bangunan-bangunan abad pertengahan Islam tersebut membuktikan perkembangan Islam tak terlepas dari jiwa dan nafas seni.

Bahkan, pola yang terlukis di bangunan-bangunan tadi, diakui memiliki tingkat dan nilai seni yang tinggi, melebihi pengetahuan seni dunia barat pada masa itu. Peter J Lu, peneliti dari Harvard University, Amerika Serikat, membuktikannya. Pada kesimpulan penelitian yang dilakukannya, ia mengatakan, ornamen-ornamen itu nyaris membentuk pola quasi-crystalline yang sempurna. Padahal dunia Barat baru mengenal pola yang indah itu setelah 500 tahun kemudian [www.sciencemag.org]. Dunia Barat mengenal pola quasicrystalline setelah Roger Penrose, seorang ahli matematika dan kosmologi berkebangsaan Inggris memperkenalkannya pada tahun 1970. Dan pola semacam itu kemudian disebut dengan quasicrystalline Penrose.

Pola quasi-crystalline adalah pola bergaris yang saling bertautan satu sama lain yang membentuk pola yang tidak berulang, bahkan jika diteruskan ke semua arah sekalipun. Pola quasi-crystalline memiliki bentuk yang simetris khusus. Pola semacam itu sudah banyak digunakan arsitek-arsitek muslim abad pertengahan Islam. Lu menyebut sebagai karya yang menakjubkan. “Mereka membuat ubin yang memperlihatkan penguasan matematika yang begitu canggih sehingga kita tak dapat membayangkan sampai 20 atau 30 tahun belakangan ini,” katanya.

Dunia juga mengakui, salah satu corak keramik yang paling indah adalah karya tangan-tangan terampil pembuat keramik muslim. Memang pada awalnya mereka meniru corak keramik dari Cina dan Yunani. Namun, dalam perkembangan waktu, mereka menghasilkan corak yang berbeda. Keramik-keramik yang mereka ciptakan membentuk karakter keindahan tersendiri, berbeda dengan karakter keramik dari Cina atau Yunani. Teknik-teknik baru pembuatan keramik pun lahir.

Tetapi, bukti-bukti di atas tak mengubah pandangan sebagian orang yang menganggap bahwa Islam menghambat seni dan memusuhinya. Seolah, setiap perkembangan seni berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Seperti saat dimuatnya karikatur Nabi Muhammad Saw di beberapa media Barat. Saat masyarakat muslim bereaksi keras menentang pemuatan karikatur itu, dikatakan bahwa Islam tidak menghargai kebebasan seseorang untuk menunjukkan ekspresi seninya.

Pandangan Islam Tentang Seni
Sebenarnya, bagaimana pandangan Islam tentang seni? Seni merupakan ekspresi keindahan. Dan keindahan menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” [QS 50: 6].

Allah juga mengajak manusia untuk melihat dari perspektif keindahan, bagaimana buah-buahan yang menggantung di pohon dan bagaimana pula buah-buahan itu dimatangkan. Jika manusia memerhatikan dan menikmati dengan pandangan yang indah, saat arak-arakan binatang ternak saat masuk ke kandang, juga saat dilepaskan ke tempat penggembalaan, sesungguhnya pada peristiwa itu ada unsur keindahannya.

Ajakan-ajakan kepada manusia tersebut menunjukkan, pada dasarnya manusia dianugerahi
Allah potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan. Seni merupakan fitrah dan naluri alami manusia. Kemampuan ini yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Karena itu, mustahil bila Allah melarang manusia untuk melakukan kegiatan berkesenian.

Nabi Muhammad Saw sangat menghargai keindahan. Suatu ketika dikisahkan, Nabi menerima hadiah berupa pakaian yang bersulam benang emas, lalu beliau mengenakannya dan kemudian naik ke mimbar. Namun tanpa menyampaikan sesuatu apapun, Beliau turun kembali. Para sahabat sedemikian kagum dengan baju itu, sampai mereka memegang dan merabanya. Nabi Saw bersabda: “Apakah kalian mengagumi baju ini?” Mereka berkata, “Kami sama sekali belum pernah melihat pakaian yang lebih indah dari ini.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya saputangan Sa’ad bin Mu’adz di surga jauh lebih indah daripada yang kalian lihat.” [M Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an].

Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menuliskan bahwa: “Siapa yang tidak berkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh alat musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati.”

Kehati-hatian dalam Seni
Kalau memang demikian pandangan Islam tentang seni, mengapa pada masa awal perkembangan Islam [zaman Nabi Saw dan para sahabatnya], belum tampak jelas ekspresi kaum muslim terhadap kesenian. Bahkan, terasa adanya banyak pembatasan-pembatasan yang menghambat perkembangan seni? Menurut Sayyid Quthb, pada masa itu, kaum muslim masih dalam tahap penghayatan nilai-nilai Islam dan memfokuskan pada pembersihan gagasan-gagasan jahiliyah yang sudah meresap dalam jiwa masyarakat sejak lama. Sedangkan sebuah karya seni lahir dari interaksi seseorang atau masyarakat dengan suatu gagasan, menghayati dengan sempurna sampai menyatu dengan jiwanya. Karena itu, belum banyak karya seni yang tercipta pada masa awal perkembangan Islam itu.

Pembatasan-pembatasan terhadap kesenian karena adanya sikap kehati-hatian dari kaum Muslim. Kehatihatian itu dimaksudkan agar mereka tidak terjerumus kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi titik perhatian pada waktu itu. M Quraish Shihab menjelaskan bahwa Umar Ibnul Khaththab, khalifah kedua, pernah berkata, “Umat Islam meninggalkan dua pertiga dari transaksi ekonomi karena khawatir terjerumus ke dalam haram [riba].” Ucapan ini benar adanya, dan agaknya ia juga dapat menjadi benar jika kalimat transaksi ekonomi diganti dengan kesenian [Wawasan Al-Qur’an].

Atas dasar kehati-hatian ini pulalah hendaknya dipahami hadits-hadits yang melarang menggambar atau melukis dan memahat makhluk-makhluk hidup. Apabila seni membawa manfaat bagi manusia, memperindah hidup dan hiasannya yang dibenarkan agama, mengabadikan nilai-nilai luhur dan menyucikannya, serta mengembangkan serta memperhalus rasa keindahan dalam jiwa manusia, maka sunnah Nabi mendukung, tidak menentangnya.

Karena ketika itu ia telah menjadi salah satu nikmat Allah yang dilimpahkan kepada manusia. Demikian Muhammad Imarah dalam bukunya Ma’âlim Al-Manhaj Al-Islâmi yang penerbitannya disponsori Dewan Tertinggi Dakwah Islam, Al-Azhar bekerjasama dengan Al-Ma’had Al-’Âlami lil Fikr Al-Islâmi [International Institute for Islamic Thought].

Kesenian Islam baru berkembang dan mencapai puncak kejayaan pada saat Islam sampai di daerah-daerah Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa. Daerah-daerah tersebut didefinisikan sebagai Persia, Mesir, Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia, dan Seljuk. Di daerah-daerah tersebut, Islam membaur dengan kebudayaan setempat. Terjadilah pertukaran nilai-nilai Islam dengan budaya dan seni yang menghasilkan ragam seni yang baru, berbeda dengan karakter seni tempat asalnya.

Dasar Seni Islam
Seni yang didasarkan pada nilai-nilai Islam [agama/ketuhanan] inilah yang menjadi pembeda antara seni Islam dengan ragam seni yang lain. Titus Burckhardt, seorang peneliti berkebangsaan Swiss-Jerman mengatakan, “Seni Islam sepanjang ruang dan waktu, memiliki identitas dan esensi yang satu. Kesatuan ini bisa jelas disaksikan. Seni Islam memperoleh hakekat dan estetikanya dari suatu filosofi yang transendental.” Ia menambahkan, para seniman muslim meyakini bahwa hakekat keindahan bukan bersumber dari sang pencipta seni. Namun, keindahan karya seni diukur dari sejauh mana karya seni tersebut bisa harmonis dan serasi dengan alam semesta. Dengan begitu, para seniman muslim memunyai makna dan tujuan seni yang luhur dan sakral.

Apakah seni Islam harus berbicara tentang Islam? Sayyid Quthb dengan tegas menjawab tidak. Kesenian Islam tak harus berbicara tentang Islam. Ia tak harus berupa nasehat langsung atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang aqidah. Tetapi seni yang Islami adalah seni yang menggambarkan wujud dengan ‘bahasa’ yang indah serta sesuai dengan fitrah manusia. Kesenian Islam membawa manusia kepada pertemuan yang sempurna antara keindahan dan kebenaran. « [imam]

[Box]
Erwin Gutawa – pemusik
“Seni merupakan bentuk ekspresi manusia untuk mendapatkan pengalaman yang bersifat personal. Pengalaman tersebut dapat berupa pengalaman religius. Pada batasan personal ini, seni tidak mengenal batas. Tetapi, ketika ekspresi seni masuk ke arena publik, maka ekspresi seni harus dibatasi dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Seorang seniman yang baik bisa menjadikan norma dan nilai tersebut sebagai sumber inspirasinya. Seni berpotensi untuk menyampaikan sebuah pesan. Seperti seni Islami yang menyampaikan pesan kebaikan dalam Islam. Seni Islami tidak sama dengan seni Arab. Seni Islami bisa bersumber dari budaya daerah di Indonesia. Justru dengan pendekatan seni dan budaya lokal, pesan Islam akan mudah diserap. Contohnya masyarakat Jawa zaman dahulu.

Masyarakat Jawa dahulu mudah menerima nilai-nilai Islam yang dibawa Walisongo, karena menggunakan pendekatan seni dan budaya. Cara bersyiar seperti Walisongo ini yang menjadi inspirasi saya untuk mengadakan konser ‘The Spirit of Ramadhan’ di Plenary Hall – JCC, pada 9 September mendatang.

Banyak sekali ragam seni budaya yang bisa dikembangkan di Indonesia. Seniman Indonesia juga tidak kalah dengan negara lain, bahkan beberapa orang lebih baik. Tetapi diperlukan dukungan dari semua pihak, baik dari pemerintah dengan penyiapan infrastrukturnya, maupun dari kemauan seniman dan pelaku bisnis seni untuk menjadikan seni budaya Indonesia bisa berbicara di kancah Internasional.” « [imam]

Yana WS – pematung
“Tadinya memang ada semacam dilema, saat awal saya membuat patung. Apalagi, di masyarakat yang relatif religius, membuat patung cenderung diidentikkan dengan membuat berhala. Tapi dari beberapa literatur, saya menemukan bahwa kegiatan berkesenian membuat patung boleh saja, selama bukan bertujuan untuk disembah.

Ada korelasi antara seni dan religi. Apalagi jika seni itu diarahkan untuk kebaikan. Atau mendorong orang untuk berbuat kebajikan. Untuk itulah pada tahun 1995, saya mulai tergerak untuk mengarahkan karya saya ke seni yang Islami. Diawali dengan membuat karya yang terinspirasi dari situs Ratu Nahrisyah dari Aceh untuk keperluan pameran seni. Pembuatan karya ini akhirnya menuntun saya melahirkan karya baru, yang melukiskan proses masuknya Islam ke bumi Nusantara. Karya setinggi orang dewasa dan dibuat menjadi tiga tahap gradual ini berisi kaligrafi Surat Yasin, ayat Kursi, dan beberapa ayat Al-Qur’an. Karya ini sudah beberapa kali ikut dalam sejumlah pameran.

Selain itu ada juga karya saya yang bertema Islam. Karena menurut saya yang paling khas dari Islam adalah shalat, maka karya ini berbentuk patung orang yang sedang shalat. Mulanya sendirian, kemudian saya buat lagi yang berjamaah. Minimal dengan melihat dan mengapresiasi patung itu, kita akan selalu teringat tentang kewajiban shalat bagi umat Muslim. Karya ini akan diikutkan dalam Islamic Art Auction pada mula Ramadhan tahun ini.” « [hagi]

[Box Trivia]
Seniman-Seniman Muslim yang Mengubah Dunia
1. Maulana Jalaluddin Rumi
Lahir – Wafat 1207 – 1273
Karya-karya al-Matsnawi, Diwâm-i-Shams-I Tabriz, dan Fîhi ma Fîhi.
Deskripsi Penyair besar sufi dengan banyak karya yang mengubah pandangan dunia.
Pengaruh Saat mengarang kumpulan puisi al-Matsnawi. Buku ini memberikan kritikan terhadap ilmu kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Juga pada langkah dan arah filsafat yang sudah melebihi batas, terlalu mengagungkan rasio dan mengabaikan perasaan.

2. Muhammad Al Farabi
Lahir – Wafat 870 M – 950 M
Karya-karya at-Ta’lîm ath-Thani, al-Mûsiqâ al-Kabîr, dan Qânun [alat musik semacam kecapi]
Deskripsi Cendekiawan muslim ahli filsafat, ilmu pengetahuan, kedokteran, sastra, dan musik. Ia menguasai 89 bahasa.
Pengaruh Ia dikenal sebagai Guru Kedua [Mua’allim Tsâni]. Ia juga pandai memainkan dan mencipta beberapa alat musik.

3. Umar Khayyam [Ghiyath A-Din Abu’l-Fath Umar ibnu Brahim Al-Nisaburi A-Khayyami]
Lahir – Wafat 1048 – 1131
Karya-karya Sharh ma ashkala min musaddarât kitab Uqlidis [Penjelasan Kesulitan dari Postulat Euclid], Treatise on Demonstration of Problems of Algebra, Rubaiyat Umar Khayyam [antologi puisi]
Deskripsi Pakar matematika dan astronomi yang ahli bikin puisi.
Pengaruh Ia memopulerkan puisi atau sajak berjumlah empat baris [quatran]. Gaya berpuisi Khayyam diikuti penyair-penyair dunia.

4. Hafiz Shirazi
Wafat 783 H
Karya-karya Dîwân Hâfidz
Deskripsi Penulis lirik Persia terkenal dan dianggap sebagai salah satu pilar puisi Persia selain Umar Khayyam. Ia memperoleh julukan Lisân al-Ghaib [orator siluman] dan Tarhuman al-Asrâr [pembuka rahasia].
Pengaruh Syair-syair Hafiz hingga saat ini banyak dikutip sebagai pemandu dan sebagai pemberi jawab atas pertanyaanpertanyaan, dan pemberi arah untuk mewujudkan keinginan manusia.

5. Muhammad Iqbal
Lahir – Wafat 1873 – 1938
Karya-karya Shikwa dan Jawâb-i-Shikwa
Deskripsi Keturunan Brahma Kashmir yang menerima Islam masuk ke India. Ayahnya, Nur Muhammad, adalah Muslim yang taat dan pengusaha setelah mengundurkan diri dari jabatan di pemerintahan.
Pengaruh Pada Shikwa, Iqbal menulis tentang warisan muslim dan keruntuhannya. Sedangkan pada Jawâb-i-Shikwa, ia menyampaikan penyebab keruntuhan itu, serta mempertanyakan, mengapa harus pasrah menerimanya sebagai takdir, bukannya berusaha untuk bangkit.

6. Nama Syed Quthb
Lahir – Wafat 1906 – 1966
Karya-karya Tifi Qoria, Madinat Al Masyûr, Qafila Rafîq, Hilmi Fajr, dan Ma’alim fith Tharîq
Deskripsi Selain pemikir dan cendikiawan, ia juga sastrawan terkemuka di zamannya. Syed Quthb memulai karirnya sebagai penulis buku anak-anak.
Pengaruh Quthb menulis buku tentang kehidupan nabi dengan menggunakan bahasa yang indah sehingga menarik anak-anak. Karena kepopulerannya itu, ia menjadi pahlawan bagi semua anak muda Mesir. Bukunya Ma’alim fith Tharîq terkenal dengan kritikan terhadap budaya barat dan cara hidup mereka.

7. Nama Sunan Kalijaga
Lahir Diperkirakan tahun 1450
Karya-karya Pengarang lakon pewayangan Layang Kalimasada, suluk lir-ilir, lanskap kota yang terdiri dari kraton, alun-alun dan masjid. Penggagas baju takwa.
Deskripsi Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban – keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe.
Pengaruh Menjadi salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa. Pendekatan dakwahnya sangat membumi dan unik. Ia menggunakan sarana budaya untuk mendekati masyarakat Jawa. Salah satunya dengan memasukkan salah satu laakon pewayangan yang terkenal yaitu Layang Kalimasada yang berarti kalimah syahadat. « [imam]
(Sumber:http://alifmagz.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar