Kamis, 20 Februari 2014

SEJAHTERAKAN GURU...KURIKULUM APA SAJA OKE!!

Tidak dipungkiri jika kurikulum merupakan penentu arah dan tujuan pendidikan sekaligus turut menentukan ketercapaian dan visi dan misi pendidikan. Di dalam kurikulum semua piranti pendidikan tercakup di sana, mulai dari kompetensi yang ingin dicapai dalam pendidikan, materi yang menunjang kompetensi, metode untuk mentransfer materi ke pribadi siswa, media yang mendukung berjalannya metode pembelajaran serta instrument evaluasi untuk mengukur ketercapaian proses pembelajaran. Hal yang amat urhen adalah pelaksana dari kurikulum itu sendiri yang sampai saat ini masih saja “tersisi” dari perhatian para penentu kebijakan (stake-holder) pendidikan adalah peran-terlibatnya guru dalam implementasi kurikulum itu sendiri dan “ini sangat memprihatinkan”. Sehebat apapun sebuah konsep kurikulum jika tidak dilaksanakn secara optimal oleh para pahlawan-pahlawan pendidikan ini kurikulum itu tidak akan berfungsi apa-apa dalam membangun kecerdasan bangsa. Kurikulum hanya akan menjadi konsep yang tercetak dalam jutaan lembar kertas hampa tanpa ada nyawanya sedikitpun. Wajah bangsa dan generasi muda Negara tercinta ini akan tetap saja seperti ini. Orang tua minim moral dan anak muda berjalan dan berkembang dengan buta arah dan tujuan yang mulia karena banyak dari materi dalam kuerikulum tidak tersampaikan apalagi terserap dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa tidak berusaha mengoptimalkan anggaran untuk mensejahterakan para pendidik generasi bansa ini. Konsep berfikir yang sederhana, usahakan agar guru tidak berfikir apa-apa lagi selain mengajar, memperdalam dan memperluas pengetahuan di bidangnya, serta melakukan penelitian-penelitian guna perbaikan proses pengajaran. Bukannya malas datang untuk mengajar karena gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya belum dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, biaya pendidikan anak-anak dan kesejahteraan lainnya. Orang bodoh saja bisa mengkorelasikan kenyataan ini dengan kesuksesan pendidikan. Manakala guru di rumah sudah mempersiapkan dan menguasai materi/bahan ajar dengan matang, datang ke sekolah tepat waktu, datang dengan wajah yang fresh, tidak pernah membolos tanpa alasan yang rasional. Sementara guru BP-nya rajin datang ke sekolah dan inten memantau perkembangan perilaku anak-anak didiknya serta rajin mengunjungi orangtua/wali siswa-siswa yang dianggap memiliki gejala-gejala yang menyimpang dari perilaku mulia untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang tua/wali. Apa masih ada kesempatan buat peserta didik mengembangkan perilaku-perilaku menyimpang?? Bukannya tujuan utama dari pendidikan adalah memanusiakan manusia atu menjadikan peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Untuk mensosialisasikan sebuah konsep baru dalam wujud kurikulum di sebuah Negara yang besar seperti Indonesia tidak mudah seperti “membalikkan telapak tangan”. Butuh proses dalam waktu yang amat lama yang konsekuensinya tentu berkaitan dengan anggaran untuk realisasi kegiatan tersebut agar dapat merambah ke seluruh pelosok negeri. Karena hak mendapatkan pendidikan merupakan milik seluruh bangsa. Dan ini tetap akan “sia-sia” jika implementasinya lagi lagi tidak optimal. Konsep tinggalah konsep, jika guru tidak melaksanakan apa yang termaktub dalam kurikulum maka nonsen “tidak akan merubah apa-apa”. Nasip pendidikan kita akan tetap terpuruk dan jauh tertinggal dari pendidikan Negara-negara yang lebih dulu memperhatikan sepenuhnya terhadap nasib guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum “apa-pun konsep kurikulum itu”. Tidak usah “repot-repot” sibuk mencari konsep-konsep baru tentang kurikulum yang relevan dengan kondisi bangsa ini, cobalah bersibuk-sibuk mencarikan jalan agara guru sang pahlawan pendidikan dan ujung tombak implementasi kurikulum ini sejahtera dan ready untuk melaksanakan konsep apapun yang tertera dalam kurikulum dengan “langkah tegap dan wajah berseri-seri karena bensin motor/mobilnya penuh dan celananya terasa agak mantab karena dompetnya berisi lembaran-lembaran yang siap ditukar dengan semua kebutuhan hidupnya”. Contoh Negara-negara yang jelas-jelas maju karena pendidikannya yang maju sudah banyak. Jepang, Jerman bahkan Malaysia yang dulu banyak belajar dari Indonesia, kini jauh melesat meninggalkan kita karena mau peduli dengan nasib para pejuang pendidikan mereka. Tidak ada waktu dan alasan lagi untuk menutup mata, sudah waktunya walau agak terlambat untuk membangkitkan gairah guru dalam menekuni pekerjaannya dengan mensejahterakan kehidupan mereka. Jika saat ini kita kembali disibukkan dengan sosialisasi kurikulum dengan konsep yang baru. Agar terus diimbangi dengan optimalisasi intensitas implementasi dari kosep-konsep termaktub dalam kurikulum tersebut. Jenuh rasanya melihat kegagalan demi kegagalan pendidikan generasi muda dengan “mengkambing hitamkan kurikulum” yang digunakan untuk mencerdaskan bangsa yang tercinta ini. Jadikanlah profesi guru sebagai profesi yang diidam-idamkan generasi penerus, bukannya profesi bagi generasi yang tidak diterima di pekerjaan yang diidamkannya lalu menjadi guru. Muliakan guru sebagai pendidik generasi bangsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar